Fenomena Astronomi Juni: Ada Gerhana Matahari Cincin


Selasa, 02 Juni 2020 - 12:38:07 WIB
Fenomena Astronomi Juni: Ada Gerhana Matahari Cincin Gerhana matahari cincin yang terlihat di Siak, provinsi Riau, 26 Desember 2019 lalu.

HARIANHALUAN.COM - Bulan berganti, sejumlah fenomena astronomi masih akan 'menghibur' manusia di Bumi. Setelah Mei lalu diwarnai peristiwa komet dan hujan meteor, pada Juni ini giliran gerhana matahari cincin bisa 'dinikmati' para pecinta langit. 
 
Bukan itu saja, Pusat Sains Antariksa dan Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mendaftarkan sejumlah fenomena lain yang akan terjadi sepanjang bulan ini. Penjelasan diberikan melalui akun resmi Instagram-nya pada 30 Mei 2020.
 
Total ada enam fenomena astronomi yang bisa diamati. Sebagian terjadi pada hari yang bersamaan. Simak penjelasannya berikut ini dikutip dari @pussains_lapan.
 
21 Juni: Fase Bulan baru dan gerhana Matahari cincin

Dalam fase Bulan baru, Bulan akan terletak di sisi Bumi yang sama dengan Matahari dan tidak akan terlihat di langit malam. Fase ini terjadi pada pukul 23.42 WIB. Ini adalah waktu terbaik dalam sebulan untuk mengamati benda-benda redup seperti galaksi dan gugusan bintang karena tidak ada cahaya Bulan yang mengganggu.

Sedang gerhana Matahari cincin terjadi ketika Bulan terlalu jauh dari Bumi sehingga tidak sepenuhnya menutupi Matahari. Ini menghasilkan bulatan cincin cahaya di sekitar Bulan yang gelap, dan korona Matahari tidak akan terlihat selama gerhana cincin.

Jalur gerhana akan dimulai di Afrika Tengah dan akan bergerak melalui Arab Saudi, India, dan Cina Selatan sebelum berakhir di Samudera Pasifik. Gerhana Matahari cincin akan terlihat di sebagian Afrika Timur, Timur Tengah dan Asia Selatan.

Titik balik Matahari Juni (Soltice Juni) akan terjadi pada pukul 04.44 WIB. Kutub utara Bumi akan condong ke arah Matahari, yang akan mencapai posisi paling utara di langit dan berada di atas garis balik utara pada 23,44 derajat lintang utara. Ini adalah hari pertama musim panas (soltice musim panas) di belahan Bumi utara dan hari pertama musim dingin (soltice musim dingin) di belahan Bumi selatan.

Sementara konjungsi Bulan-Merkurius puncaknya akan terjadi pada pukul 17.15 WIB. Namun Bulan dan Merkurius akan sulit terlihat ketika Matahari masih berada di atas ufuk, sebab cahaya pantulan Bulan dan Merkurius kalah terang dibandingkan dengan cahaya Matahari.

Fenomena konjungsi ini bisa dinikmati ketika Matahari sudah terbenam di arah barat laut. Bulan-Merkurius berdekatan ini terletak di Rasi Gemini, tapi cukup sulit mengamati Merkurius dengan mata telanjang.

28 Juni: Bulan fase perbani awal

Fenomena ini terjadi pada pukul 15.16 WIB pada jarak 369.921 kilometer dari pusat Bumi. Pada saat itu Bulan, Bumi, dan Matahari akan membentuk sudut 90 derajat atau sudut siku-siku. Bulan akan terbit ketika tengah hari dan berkulminasi ketika Matahari terbenam sehingga kita dapat menyaksikan penampakan Bulan ini sebelum Matahari terbenam hingga tengah malam ketika Bulan terbenam.

30 Juni: Bulan berada di titik terjauh Bumi (Perige)

Fenomena astronomi ini akan terjadi pada pukul 09.20 WIB pada jarak 368.996 kilometer dari pusat Bumi. Bulan akan tampak lebih besar jika diamati dari Bumi dengan lebar sudut 32,4 menit busur. (*)

 Sumber : Tempo.Id /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 21 Februari 2020 - 17:56:37 WIB

    Fenomena Panas di Rumah Warga, Dinas ESDM: Bisa Jadi Itu Kabel Putus

    Fenomena Panas di Rumah Warga, Dinas ESDM: Bisa Jadi Itu Kabel Putus PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Fenomena panas yang terjadi di lantai rumah warga belum bisa dipastikan jika hal tersebut karena adanya panas bumi atau peristiwa alam. Pihak dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar.
  • Sabtu, 01 Februari 2020 - 23:38:31 WIB

    Heboh Fenomena Kerajaan Fiktif, Kesbangpol Kota Solok: Ayo Kenali Ciri-cirinya

    Heboh Fenomena Kerajaan Fiktif,  Kesbangpol Kota Solok: Ayo  Kenali Ciri-cirinya SOLOK, HARIANHALUAN.COM—Fenomena munculnya kelompok atau kerajaan fiktif  di sejumlah daerah di Indonesia menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Pemerintah, dan warga berperan aktif mencegah terjadinya  gejolak sosia.
  • Jumat, 29 November 2019 - 21:20:45 WIB

    Fenomena 200 Hari Tanpa Hujan, Begini Penjelasan BMKG

    Fenomena 200 Hari Tanpa Hujan, Begini Penjelasan BMKG JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Kepala Sub Bidang Analisis dan Informasi Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Adi Ripaldi menjelaskan perihal beberapa daerah di Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa T.
  • Jumat, 22 November 2019 - 14:12:26 WIB

    Fenomena Tanah Abang Sepi, Satu Lagi Bukti Ekonomi Lesu Nih

    Fenomena Tanah Abang Sepi, Satu Lagi Bukti Ekonomi Lesu Nih JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Cerita berdesak-desakan saat berbelanja di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat seolah kisah usang masa lalu. Kini, melangkah di pasar Tanah Abang relatif lebih lengang..
  • Senin, 14 Oktober 2019 - 16:32:07 WIB

    Fenomena Aneh, Tanah Berasap Bikin Tanda Tanya Warga Jombang

    Fenomena Aneh, Tanah Berasap Bikin Tanda Tanya Warga Jombang JOMBANG, HARIANHALUAN.COM - Warga Dusun Ngemplak Timur, Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek, Jombang dibuat bertanya-tanya dengan tanah yang tiba-tiba mengeluarkan asap. Asap tersebut berbau menyengat mirip tetes tebu atau molase.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]