Cerita Pasien Sembuh Covid-19 di Agam, Takut Dikucilkan Tetangga


Selasa, 09 Juni 2020 - 15:22:38 WIB
Cerita Pasien Sembuh Covid-19 di Agam, Takut Dikucilkan Tetangga ilustrasi Covid-19

HARIANHALUAN.COM - Seorang pasien positif Covid-19 inisial J asal Biaro Kecamatan Ampek Angkek Kabupaten Agam menceritakan perjuangannya berhasil sembuh dari virus ini. Pasien yang berprofesi sebagai pegawai TU di Puskesmas Baso tersebut mengatakan, salah satu kunci untuk bisa sembuh dari Covid-19 adalah dengan berpikir positif dan perbanyak beribadah (salat dan doa) kepada Allah SWT.

“Saya perbanyak salat sunat dan tahajud hampir setiap malam. Setiap waktu saya terus berdo’a. Semua saya serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa,” jelasnya, Senin (8/6/2020) kemarin.

Ibu dua anak itu menjelaskan pada 4 Mei, dia bersama rekan-rekan yang bekerja di Puskesmas didatangi tim medis Dinas Kesehatan Kabupaten Agam untuk dilakukan pengecekan kesehatan. Saat itu, J mengaku bahwa ada beberapa hari sebelumnya seorang pasien ODP yang berulang kali berobat di Puskesmas Baso dan kemudian dinyatakan positif Covid-19.

J sendiri mengaku bahwa dirinya tidak mengalami gejala Covid-19. Seperti batuk ringan, badan panas, tenggorokan sakit atau sakit kepala. Saat itu dirinya sehat-sehat saja tanpa adanya gejala seperti penderita Covid-19. Apalagi, ia hanya bekerja di bagian Tata Usaha (TU) sehingga tidak kontak langsung dengan pasien positif ataupun PDP.

“Karena kawan-kawan pada diperiksa semua, maka saya juga diperiksa. Sehingga 7 Mei keluar hasil swab sebanyak tujuh orang dinyatakan positif Corona termasuk diri saya,” jelas J.

Mendengar hasil swab tersebut, J sempat  shock dan bahkan tidak percaya karena dirinya tidak kontak langsung dengan pasien positif Covid-19. “Sempat kaget juga, karena tidak ada gejala tapi saya positif. Cuma yang saya rasakan waktu itu hanya tenggorokan kering, dan itu wajar karena saat itu puasa,” terang J menjelaskan.

Setelah tahu positif, dia memberikan kabar tersebut kepada pihak keluarga termasuk anak dan suaminya. Saat itu keluarganya memberikan semangat dan meminta untuk tidak terlalu cemas. Besoknya, tim medis juga memeriksa anak dan suaminya. “Alhamdulillah hasil anak dan suami saya negatif. Itulah yang membuat saya lega dan berpikir positif karena mereka tiap waktu selalu memberikan semangat kepada saya,” paparnya.

Dalam masa perawatan atau karantina selama dua minggu (7 Mei sampai 20 Mei) di Diklat Padang Basi. Disamping diberikan obat dan vitamin, dia juga diberi semangat oleh para petugas kesehatan. J juga menuturkan bahwa selama dirawat ia mendapatkan perawatan yang cukup baik, pelayanan yang bagus dan ramah.

“Saya ucapkan terimakasih banyak kepada seluruh tim kesehatan yang sudah merawat saya sampai sembuh dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga. Dan kepada anak dan suami saya serta kerabat dan kawan-kawan semuanya terimakasih atas support dan do’anya. Bagi yang terjangkit, saya doakan agar segera sembuh,” pintanya.

Kepada masyarakat, dia juga mengimbau untuk mengurangi aktivitas keluar rumah, kurangi bertemu orang banyak, sehingga bisa mengurangi risiko penularan. Sebab tidak ada yang tahu siapa yang membawa virus tersebut. Terpenting sekali lanjutnya, tetap atur pola hidup bersih dan sehat, serta selalu menjaga daya tahan tubuh agar tetap vit dan kuat. 

“Karena daya tahan tubuh kita yang kuat, akan membuat virus tersebut kalah,” tuturnya.

Setelah dinyatakan sembuh dan dibolehkan pulang ke rumah pada 20 Mei lalu, J sempat agak ragu dan cemas apabila diasingkan oleh masyarakat setempat karena disangka pembawa virus. Namun, prasangka tersebut tidak terbukti. Masyarakat menyambut baik bahkan merasa tidak percaya kalau dirinya terjangkit positif Covid-19.

Menurut analisa tetangganya, kalau memang dirinya positif corona, kenapa anak-anaknya yang masih kecil tidak terkena juga. “Kalau kamu positif pasti anak-anak kamu juga kena, karena anak-anak rentan tertular virus tersebut,” terang J mengulangi kembali ucapan tetangganya.

J hanya memiliki sedikit kecemasan ketika mulai awal bekerja kembali setelah sempat diisolasi mandiri selama 12 hari di rumah. Menurutnya, serasa virus itu masih ada disekitar karena virus mematikan tersebut disinyalir didapat di tempat bekerja. Sebagai tenaga kesehatan, ia harus tetap kuat dan berjiwa besar dalam menjalani setiap resiko pekerjaan. 

“Tidak ada sebuah pekerjaan yang tidak memiliki risiko. Namun, yakinlah bahwa segala sesuatunya terjadi atas izin Allah SWT,” ujar J mengakhiri. (*)

Reporter : Metria Indeswara | Editor : Agoes Embun

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]