Februari 2021, Vaksin Covid-19 Mulai Diproduksi di Indonesia


Rabu, 10 Juni 2020 - 08:24:56 WIB
Februari 2021, Vaksin Covid-19 Mulai Diproduksi di Indonesia Peneliti melakukan proses pemisahan cairan (ekstraksi) struktur pernafasan (respirasi) kelelawar terkait upaya menemukan vaksin Covid-19. (ilustrasi) | ANTARA FOTO

HARIANHALUAN.COM -- Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memprediksi vaksin Covid-19 di Indonesia akan mulai masuk tahap skala produksi pada Februari 2021. Eijkman bekerja sama dengan BUMN Bio Farma untuk memproduksi vaksin itu secara massal.

Peneliti vaksin Covid-19 di lembaga Eijkman, Prof Herawaty Sudoyo, mengatakan, kandidat vaksin yang sedang diteliti timnya direncanakan bakal rampung pada Oktober 2020. Selanjutnya akan masuk tahap uji klinis dalam periode November 2020-Januari 2021.

"Kami harapkan pada Februari 2021, Bio Farma sudah masuk skala produksi," kata Prof Herawaty saat diskusi daring bertemakan "Adaptasi Normal Baru dari Perspektif Sains, Kesehatan, dan Psikologi", dikutip dari Republika.co.id, Rabu (10/6/2020).

Secara global, kata Herawaty mengutip laporan WHO, kini terdapat 10 kandidat vaksin Covid-19 yang paling terdepan. Kesepuluh kandidat itu telah masuk tahap evaluasi klinis. Sebanyak tiga di antaranya bahkan telah masuk tahap uji klinik fase II atau sudah diujikan kepada manusia. Tiga kandidat vaksin yang telah masuk fase uji klinik itu, kata dia, dikerjakan di tiga negara.

Yakni di Inggris dikerjakan University of Oxford bersama AstraZeneca, di Cina oleh CanSino Biological Inc bersama Beijing Institute of Biotechnolgy, dan di Amerika Serikat oleh Moderna bersama NAID. Jika salah satu di antara tiga vaksin berhasil, akan segera diproduksi massal dan dipasarkan.

"Rencananya mereka mau (produksi massal) pada akhir 2021, tapi siapa yang tahu kalau awal atau pertengahan 2021 sudah keluar," ujarnya.

Klasifikasi

Sementara itu, pemerintah mengidentifikasi Covid-19 yang berbeda di dua episentrum penyebaran virus korona di Indonesia. Menteri Riset Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi (Menristek-BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan, dua klasifikasi tersebut berasal dari identifikasi sampel virus di Indonesia, yang sudah didefinisikan oleh GISAID atau bank data influenza internasional. Salah satu virus yang ditemukan di Tanah Air berasal dari Eropa.

“Ada sedikit perbedaan antara virus yang berkembang di Surabaya dan di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi),” kata Bambang, Selasa (9/6). Ia menjelaskan, dalam data bank influenza internasional (GISAID), sudah ada enam kategori Covid-19 di seluruh dunia. Sampel tersebut, menjadi basis riset seluruh negara, pun konsorsium obat-obatan untuk menemukan vaksin pun bahan farmasi penyembuhan.

Pemerintah, kata dia, ikut berpartisipasi dengan menyerahkan 13 sampel atau whole genom secuencing virus Covid-19 yang ada di Indonesia. Tiga belas sampel yang diserahkan ke GISAID tersebut, hasil dari riset internal di dua lembaga bio molekuler Eijkman di Jakarta, dan Airlangga di Surabaya.

“Tujuh dari Eijkman, dan enam dari Unair (Universtias Airlangga),” ujar Bambang. Basis virus yang berasal dari Jabodetabek dan Surabaya tersebut, menurut GISAID, dua di antaranya masuk dalam kategori korona Eropa. Sementara 11 lainnya, berstatus others atau belum teridentifikasi atau di luar enam daftar Covid-19 global.

“Dua yang kategori (Covid-19) Eropa itu, ada di Surabaya. Sebelas (yang lainnya) masih others,” ujar Bambang. Artinya, kata dia, saat ini, ada minimal dua kategori korona yang tersebar di episentrum pandemi Covid-19 di Indonesia.

Bambang menerangkan, identifikasi korona yang tersebar di Indonesia penting sebagai basis pengembangan vaksi. Sekarang ini, pemerintah menempuh dua jalur pengembangan vaksin. Pertama, memastikan pengembangan vaksin mandiri. Kedua, lewat jalur pembelian ke negara-negara yang menemukan vaksin. Namun, sampai hari ini, kata Bambang, belum ada satu pun negara konsorsium farmasi yang berhasil menemukan vaksin Covid-19. 

Ketua Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Pratiwi Pudjilestari Sudarmono mengatakan, penemuan vaksin akan sangat menentukan herd immunity masyarakat Indonesia ataupun penduduk di suatu wilayah. Ia mencontohkan dengan penemuan vaksin campak pada 1962. Tak lama berselang, herd immunity segera terjadi, lalu penyakit campak segera turun, bahkan hilang.

Menurut dia, untuk mencapai herd immunity atas Covid-19, dibutuhkan 70 persen anggota populasi yang telah imun atau kebal pada virus penyebabnya. "Untuk Covid-19 yang R0-nya itu dua sampai tiga, maka cukup 70 persen yang terlindungi (imun)," kata Pratiwi.

Prof Pratiwi menjelaskan, herd immunity adalah kondisi di mana sebagian besar anggota suatu populasi telah mempunyai kekebalan. Sehingga bisa menghambat penularan virus, termasuk melindungi anggota populasi yang rentan, seperti orang tua dan anak-anak. Untuk mencapai herd immunity itu, kata dia, terdapat ambang batas kekebalan yang harus dipenuhi.

Setiap virus ambang batasnya berbeda-beda. Untuk Covid-19 ambang batasnya adalah kekebalan pada 70 persen anggota masyarakat karena tingkat penularan atau R0 virusnya berada di angka dua hingga tiga. (*)

 Sumber : Republika.co.id /  Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]