Mencari Figur Kombinasi di Pilkada Tanah Datar


Rabu, 10 Juni 2020 - 22:28:49 WIB
Mencari Figur Kombinasi di Pilkada Tanah Datar Musfi Yendra

Kabupaten ini dinamai Tanah Datar. Sebuah daerah yang sebenarnya bukan terdiri dari tanah yang datar semata. Tidak seperti hamparan gurun. Perbukitan dan lembah menjadi kontur wilayahnya. Luhak Nan Tuo penamaan lain dari kabupaten yang mililiki 14 kecamatan ini.

Musfi Yendra - Dosen Fisipol Unes Padang

Dalam sejarah suku bangsa Minangkabau, Tanah Datar menjadi icon. Kerajaan Pagaruyung berpusat di sini. Ditemukan berbagai peninggalan sejarah Raja Adityawarman, pendiri kerajaan Pagaruyung, seperti prasasti. Sehingga Batusangkar sebagai ibukota kabupaten Tanah Datar disebut Kota Budaya.

Jika merunut sejarah kerajaan Pagaruyung, tidak lepas dari dinamika politik yang tinggi. Menjalankan kerajaan dengan sistem pemerintahan. Membangun hubungan antar kerajaan di nusantara. Perlawanan menghadapi penjajahan asing. Pusat Minangkabau di Kerajaan Pagaruyung disebut sebagai bumi emas. Sehingga Belanda dan Inggris pada waktu itu berusaha untuk menguasai daerah ini. Walaupun mereka tidak pernah menemukan emas itu.

Perang Paderi menjadi catatan sejarah kelam politik penting di Kerajaan Pagaruyung. Perang saudara ini muncul karena pertentangan kelompok ulama yang dijuluki sebagai Kaum Paderi terhadap kebiasaan buruk yang marak dilakukan kalangan kaum Adat di kawasan Kerajaan Pagaruyung. Kebiasaan itu adalah perjudian, penyabungan ayam dan minuman keras. Kaum Agama dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah. Sedangkan Kaum Adat dipimpin oleh Sultan Tangkal Alam Bagagar.

Kaum Adat kawalahan menghadapi Kaum Agama, dan meminta bantuan ke Belanda waktu itu. Konflik horizontal ini bergolak dari tahun 1803 hingga 1838. Cukup panjang dan melelahkan karena meluas ke berbagai daerah. Akibat buruk dari  perang ini merosotnya perekenomian masyarakat. 

Sejarah politik panjang di Kerajaan Pagaruyung, mempengaruhi dinamika politik kekinian di Kabupaten Tanah Datar. Tidak mudah menjadi seorang pemimpin di daerah ini. Memimpin dan mengurus masyarakat yang terbiasa berdialektika, tajam, kritis dan konstruktif. Seperti nama Tanah Datar, yang daerah sesungguhnya bukanlah datar-datar saja. Politik pun begitu. 

Sensitifitas publik terhadap politik sangat tinggi. Isu apa saja terkait kebijakan kepala daerah jadi sorotan, apalagi yang dianggap tidak pro rakyat. Persaingan elit politik juga tajam. Walaupun tidak muncul ke permukaan. Tapi ibarat api dalam sekam. Politik memang begitu. Apalagi menjelang momentum Pemilu/Pilkada. Yang tidak siap, bisa saja tumbang atau tersingkir dari percaturan. 

Menarik mengkilas balik kepemimpinan Tanah Datar 35 tahun terakhir. Semua kepala daerah/bupati memiliki latar belakang, karakter dan pendekatan kememimpin yang berbeda. Ikasuma Hamid 10 tahun (1985-1995), Masdar Saisa 5 tahun (1995-2000), Masriadi Martunus 5 tahun (2000-2005), Shadiq Pasadigoe 10 tahun (2005-2015) dan Irdinansyah Tarmizi 5 tahun (2015-2020). 

Ikasuma Hamid dan Masdar Saisa, kepala daerah di era orde baru, keduanya latar belakang militer. Ikasuma Hamid dikenal sebagai sosok yang pendiam, bersahaja dan merakyat. Putra Kubang Landai ini memiliki semangat pengabdian sangat tinggi membangun Tanah Datar yang terbelakang waktu itu. Beliau mencanangkan program pertanian, industri kecil, dan pariwisata (Pertiwi). Kabupaten Pertiwi beliau sebut. 

Di awal kepemimpinan Ikasuma Hamid, Tanah Datar menjadi daerah tingkat II paling berhasil pembangunannya di Sumatera Barat dan meraih penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha Pelita IV waktu itu. Banyak lagi prestasi besar yang diukir Bupati Jenderal ini. 

Wartawan senior, Hasril Chaniago dalam tulisan in-memorium; Ikasuma Hamid (2011) menyebut, Ikasuma Hamid tipe orang yang tak banyak bicara, tapi lebih banyak bekerja.  Sosok yang bisa melahirkan pemimpin dari stafnya. Sekda Muchtiar Muchtar jadi Walikota Payakumbuh, Ketua Bappeda Lukman Gindo jadi Walikota Padang Panjang dan bekas Sekda Nasrul Syahrun menjadi Bupati Padang Pariaman. 

Masdar Saisa, dikenal sosok yang tegas karena seorang tentara. Militer banget. Beliau memiliki pengalaman jadi Bupati di Pesisir Selatan tahun 1990-1995 sebelum ke Tanah Datar. Dalam catatan Wartawan senior, Eko Yanche Edrie, menyebutkan, menjelang kemepimpinan Ikasuma Hamid berakhir sejumlah tokoh Tanah Datar menemui Masdar Saisa yang waktu itu sedang menjabat Bupati Pesisir Selatan.  

Tujuannya untuk meminta beliau pulang kampung membangun Tanah Datar. Setelah dapat arahan dan dukungan dari Hasan Basri Durin yang waktu itu menjabat Gubernur Sumbar. “Saya mulai dengan parseneling dua", kata Masdar Saisa ke Eko Yanche Edrie yang mewawancarainya di awal beliau menjadi Bupati Tanah Datar. 

Maksud parseneling dua, sudah berpengalaman sebelumnya jadi kepala daerah. Putra Jaho ini melanjutkan beberapa program yang telah dibangun Ikasuma Hamid sebelumnya. Program Pertiwi tetap dijalankan dan menambahkan kalimat 'Ekonomi Berlapis-lapis', masyarakat harus punya pendapatan tambahan selain pendapatan utama. 

Bupati Tanah berikutnya Masriadi Martunus dari kalangan pengusaha. Ia juga merupakan cucu dari Bupati Tanah Datar kedua, Ibrahim Dt. Pamuncak periode tahun 1950-1958. Masriadi bupati out of the box. Ia menguasai manajemen keuangan dan kebijakan fiskal sebagai keahlian di bidang usaha yang sangat relevan untuk mengatur keuangan daerah. Prinsip keuangan yang efektif, efisien dan ekonomis untuk program yang tepat sasaran. 

Ia juga orang yang sangat paham manajemen birokrasi dengan konsep new public management. Meninggalkan praktik birokasi weberian system yang kaku. Ia terpilih di masa transisi orde baru ke reformasi, otonomi daerah mulai dijalankan. Desentralisasi menjadi panggung bagi Masriadi membuat berbagai inovasi program di Tanah Datar. 

Langkah yang dilakukan saat menjadi bupati adalah perampingan struktur organisasi, pola pikir penggunaan dana, pembentukan usaha dinas, retribusi barang daerah, peningkatan pajak bumi dan bangunan, komputerisasi pembangunan jalan, re-grouping sekolah, puskesmas swadana, transparansi dan pakta integritas. 

Berbagai kabijakan cash management yang dilakukannya, mampu menaikan PAD Tanah Datar dari Rp. 1,7 ke Rp. 19 M, meningkat di atas 1000 persen. Pada tahun 2004/2005 menjadi pemegang saham terbesar Bank Nagari di antara kabupaten/kota lainnya di Sumatera Barat. 

Masriadi Martunus digantikan oleh Shadiq Pasadigoe. Hingga dua periode berikutnya. Shadiq Pasadigoe adalah produk pertama pemilihan kepala daerah secara langsung. Ia berlatar belakang seorang birokrat. Memulai karir birokrat dari Tanah Datar, hingga menjadi pejabat teras di Provinsi Sumatera Barat. 

Shadiq dikenal sebagai sosok yang low profile, terbuka dan blak-blakan. Tugas bupati adalah memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat dan harus sesuai aturan yang berlaku. Itu prinsip yang dipegangnya. Sesuai darah abdi negara yang mangalir dalam dirinya. Berbagai prestasi diukir oleh Shadiq Pasadigoe, yaitu Tanah Datar sebagai kabupaten langganan penerima predikat WTP atas laporan keuangan pemerintah daerah.

Juga menjadi daerah tercepat menyampaikan laporan keuangan kepada BPK, kabupaten terbaik dalam mengelola pendidikan di Sumatera Barat, kabupaten dengan tingkat kemiskinan terendah, kabupaten dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)  tertinggi, meningkatnya program pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya. Di tataran nasional Shadiq Pasadigoe dikenal sebagai kepala daerah yang berpengaruh. Ia pernah menjabat sebagai Sekjen Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). 

Sekarang Tanah Datar dipimpin Irdinansyah Tarmizi. Ia seorang politisi ternama tidak hanya di Tanah Datar tapi juga Sumatera Barat. Memulai karir sebagai PNS. Kemudian resign dan menjadi politisi. Pernah jadi anggota DPRD Kota Padang, Sumatera Barat, Wakil Bupati dan kini Bupati Tanah Datar.  

Dia dikenal sebagai sosok komunikatif dan religius. Irdinansyah merupakan aktivis Muhammadiyah Sumatera Barat. Selama hampir lima tahun ini menjadi bupati, program utamanya adalah di bidang agama. Belakangan Tanah Datar dikenal sebagai kabupaten tahfizh Qur’an. Tahun lalu ia juga mampu mengantarkan Tanah Datar juara umum MTQ di tingkat Sumatera Barat. Prestasi yang selama ini tidak lepas dari Kota Padang. Selain itu juga berbagai program infrastruktur seperti pasar. 

Irdinansyah adalah pemimpin tangguh, dengan kondisi kesehatannya yang kurang memadai, Tanah Datar bisa meraih berbagai prestasi dan penghargaan. Di antaranya kabupaten layak anak, penghargaan keberhasilan mengelola pasar, wahana tata usaha, piala adipura dan predikat WTP kinerja keuangan, kabupaten perencanaan pembangunan terbaik dan lainya.

Bagaimana kepemimpinan Tanah Datar ke depan? Desember 2020 ini Tanah Datar akan menggelar Pilkada. Berbagai tantangan ada di depan mata calon pemimpin di Luhak Nan Tuo ini. Pertumbuhan ekonomi menurun, pengangguran tinggi, berbagai penyakit masyarakat terutama narkoba marak, sarana infrastruktur terutama jalan dan irigasi banyak rusak, potensi ekonomi yang belum terkelola dengan maksimal dan pengurangan alokasi anggaran dari pemerintah pusat.

Menurut saya, Tanah Datar ke depan harus dipimpin oleh kepala daerah yang multitalenta. Jika ingin keluar dari kondisi saat ini. Menghadapi tantangan yang cukup berat ke depan. Belajar dari pendahulu. Ikasuma Hamid yang sederhana dan imaginer. Masdar Saisa yang tegas. Masriadi berjiwa entrepreneur.  Shadiq bermental melayani. Irdinansyah politisi religius.

Adakah figur yang mampu mengkombinasi kapasitas pemimpin ini menjadi sebuah model dan modal menjadi calon Bupati? (*)

 Editor : Agoes Embun

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]