Gubernur Sumbar Minta Drop Aplikasi Injil Berbahasa Minang, Ade Armando: Jangan Kekanak-kanakan


Kamis, 11 Juni 2020 - 19:52:25 WIB
Gubernur Sumbar Minta Drop Aplikasi Injil Berbahasa Minang, Ade Armando: Jangan Kekanak-kanakan Ade Armando

HARIANHALUAN.COM - Beberapa hari yang lalu masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) khususnya Minangkabau dibuar resah karena adanya aplikasi kitab Injil berbahasa Minang. Menanggapi keresahan masyarakat Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno meminta Menkominfo agar dapat memblokir aplikasi tersebut. S

urat dengan Nomor 555/327/Diskominfo/2020 tertanggal 28 Mei 2020 tersebut berisi tentang permintaan penghapusan Aplikasi Kitab Suci Injil Minangkabau. Kemudian, Dosen Universitas Indonesia Ade Armando yang dilaporkan oleh tokoh adat yang tergabung dalam Badan Koordinasi Kerapatan Adat Nagari Sumatera Barat ke Polda Sumatera Barat.

Ade dilaporkan atas dugaan mengunggah ujaran kebencian dan berita bohong atas komentarnya pada kebijakan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang meminta agar aplikasi Injil berbahasa Minang dihapus dari Play Store Google. Di chanel YouTube Total Politik, Ade Armando memberikan pernyataannya terkait pelaporan tersebut. Menurutnya, tindakan IP untuk memblokir aplikasi tersebut dinilai terlalu kekanak-kanakan dan menunjukan keterbelakangan pemikiran.

"Saya bukan orang yang berusaha menghindari atau menutupi ke-Minangan saya. Saya terus terang bangga dengan keminangan saya karena memiliki masa lalu minang dan ada banyak sekali intelektual muslim yang mengagumkan bahkan sampai sekarang. Saya tidak ingin merusak Minang tanpa sebab, pernyataan dari IP yang menyatakan dan meminta agar Menkominfo menghentikan atau memblok aplikasi Injil berbahasa Minang di drop. Buat saya itu sebuah tindakan yang sebetulnya berlebihan dan terkesan kekanak-kanakan dan terbelakang," katanya di chanel YouTube Total Politik, Kamis (11/6).

Ia menuturkan pernyataan Irwan yang mengatakan bahwa masyarakat Minang resah terhadap aplikasi Injil berbahasa Minang tersebut menggambarkan ketidak dewasaan pemikiran. Ade berkomentar kenapa masyarakat Minangkabau harus resah ketika suatu kitab suci yang berisi kebaikan dan hal-hal mulia diterjemahkan ke dalam bahasa Minangkabau.

"Bagi saya di mana letak meresahkannya sebab ini mencerminkan ketidakdewasaan berpikir orang-orang Minang yang beliau sebut. Kenapa harus marah ketika Injil sebuah kitab suci bagi Kristen yang semata-mata berisi kebaikan dan mulia ? Jadi itu tidak bisa dikatakan sesuatu yang kotor dan harus dihindari tapi itu justru sesuatu yang suci setidaknya bagi orang-orang Kristen," lanjutnya lagi.

"Ketika diterjemahkan ke bahasa Minang ini ada persoalan apa ? Kemudian di mana letak bertentangannya ? Oh akar budaya Minang itu Islam. Islam setahu saya sangat menghormati toleransi, sebenarnya kalau mau dilacak akar budaya Minang itu apa sih?" ujarnya.

Dosen Universitas Indonesia tersebut menyatakan masyarakat Minangkabau terkadang lupa bahwa akar budaya Minang bukan Islam. Ia menerangkan, Kerajaan Pagaruyung dulunya adalah peradaban Budha hingga akhirnya menjadi Islam.

"Kalau memang masyarakat Minang resah itu menunjulan keterbelakangan pemikiran," tutupnya. (*)

Reporter : Merinda Faradianti /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]