Pelaku Penyiraman Air Keras Dituntut 1 Tahun, Novel: Kita Berhadapan dengan Gerombolan Bebal


Jumat, 12 Juni 2020 - 07:25:41 WIB
Pelaku Penyiraman Air Keras Dituntut 1 Tahun, Novel: Kita Berhadapan dengan Gerombolan Bebal Novel Baswedan

HARIANHALUAN.COM - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara menuntut satu tahun penjara kepada dua terdakwa penyiram air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Mereka terbukti melakukan penganiayaan terencana yang mengakibatkan Novel kehilangan penglihatan.

Dua pelaku penyerangan dan penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, yakni Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette hanya didakwa ringan berupa pidana penjara selama 1 tahun dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan. Novel disiram cairan asam sulfat (H2SO4) pada 11 April 2017 usai salat subuh dari masjid di kompleks tempat tinggalnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. 

Akibat perbuatan pelaku, Novel mengalami kerusakan pada kornea mata kanan dan kiri hingga kehilangan penglihatan. “Terdakwa hanya berniat memberikan pelajaran kepada saksi Novel Baswedan dengan melakukan penyiraman air keras, tapi di luar dugaan ternyata mengenai mata yang menyebabkan mata kanan Novel tidak berfungsi dan mata kiri hanya berfungsi 50 persen saja, sehingga unsur dakwaan primer tidak terpenuhi,” kata JPU Ahmad Fatoni di PN Jakarta Utara, Kamis (11/6/2020).

Sementara, untuk dasar dakwaan JPU disebutkan kedua terdakwa tidak memenuhi unsur-unsur dakwaan primer soal penganiayaan berat dari Pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Tuntutan berdasarkan dakwaan subside dari pasal 353 ayat (2) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan hal-hal yang memberatkan, terdakwa telah menciderai institusi Polri. Hal yang meringankan, terdakwa belum pernah dihukum, mengakui perbuatan, bersikap kooperatif dan mengabdi sebagai anggota Polri selama 10 tahun.

Terpisah, Novel Baswedan prihatin terhadap tuntutan ringan pada dua terdakwa yang melakukan penyiraman air keras terhadap dirinya. Di satu sisi tugas Novel Baswedan memberantas mafia hukum, tapi di satu sisi ia menjadi korban mafia hukum. Novel mengaku sejak awal tahu bahwa persidangan itu hanyalah formalitas. Terbukti, para pelaku dihukum ringan.

“Keterlaluan memang, sehari-hari bertugas memberantas mafia hukum dengan UU Tindak Pidana Korupsi, tapi jadi korban praktik lucu begini, lebih rendah dari orang yang menghina Pak Jokowi. Selamat atas prestasi aparat bapak, mengagumkan. Mau dibilang apa lagi, kita berhadapan dengan gerombolan bebal,” tutupnya. (*)

 Sumber : Haluan Media Group /  Editor : Agoes Embun
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]