Isu Pemanasan Global Dunia dan Hubungannya dengan Corona


Jumat, 12 Juni 2020 - 13:41:23 WIB
Isu Pemanasan Global Dunia dan Hubungannya dengan Corona Es yang mencair di Greenland

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Planet Bumi yang indah perlahan mulai rusak karena aktivitas manusia. Di tengah pandemi, ada dampak nyata terhadap perubahan iklim dunia.

Pemanasan global adalah masalah yang terus diperbincangkan masyarakat dunia. Sebelum Corona mewabah tiap negara 'berperang' untuk menjaga kadar emisi karbon yang harus dikeluarkan agar tidak dituduh sebagai penyebab efek rumah kaca.

Adalah Conference on the Parties United Nations For Climate Change Conference (COP UNFCCC) atau Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa sebuah wujud nyata dalam memerangi perubahan iklim.

"COP UNFCCC Dirancang tahun 1992 tapi baru aktif 1994. Tujuan UNFCCC ini menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer sampai tingkat yang mampu mencegah campur tangan manusia dan sistem iklim," ujar Dr Widodo Pranowo, Peneliti Madya Bidang Oseanografi pada Pusat Riset Kelautan KKP.

Pada tahun 1997 terbentuklah Protokol Kyoto yang disepakati oleh negara-negara. Isi protokol ini mewajibkan negara-negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

"Dari sinilah awal mula seperti terjadi perdagangan emisi. Negara dengan emisi rendah bisa menjual emisinya ke negara maju yg membutuhkan emisi karbon karena tidak bisa menyetop pembangunan industrinya," cerita Widodo.

Kemudian pada tahun 2010 pemanasan global kembali membuat negara-negara melakukan perjanjian, kali ini namanya Perjanjian Cancun. Negara-negara yang terlibat berjanji akan menjaga pemanasan global dengan cara membatasi emisi karbon di bawah 2 derajat celsius relatif terhadap tingkat suhu pra-industri.

"Nah, di sini juga menjadi lebih ramai lagi. Karena masing-masing negara berusaha mengklaim telah menjaga suhu tersebut, namun juga masih menggenjot industrinya," ungkapnya.

Indonesia sendiri memiliki Perpres 51 dan 61 tentang Rencana Aksi Nasional dan Daerah Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca yang dibuat pada tahun 2011. Undang-undang ini disahkan agar Indonesia bisa terlihat dan terlibat dalam upaya keras mengurangi emisi karbon dunia.

"RAD-GRK dan RAN-GRK cukup terkenal dan populer saat masa Presiden SBY. Emisi yang dikurangi itu adalah dari sektor pertanian, kehutanan dan lahan gambut, energi dan transportasi, industri, pengelolaan limbah, dan kegiatan pendukung lain," jelasnya.

Coba bayangkan, tiap perjalanan yang kita lakukan di laut, udara dan darat akan menghasilkan sisa emisi karbon. Bahkan listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik berbahan fosil akan menghasilkan emisi.

Semua emisi yang terbuang ke udara akan membentuk lapisan yang kita kenal dengan efek rumah kaca. Bagaimana cara agar emisi karbon yang terbuang tak merugikan manusia?

Tak banyak yang tahu kalau keberadaan mangrove dan lamun (seagrass) di lautan sangat membantu pengurangan emisi karbon. Mangrove dan lamun akan menyerap karbon dan menyimpannya dalam sedimen. (*)

 Sumber : detik.com /  Editor : Rahma Nurjana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 04 Maret 2019 - 20:23:54 WIB

    Diduga Dua Kali Disuntik Rubella, Bocah SD di Sijunjung Ini Tumbang

    Diduga Dua Kali Disuntik Rubella, Bocah SD di Sijunjung Ini Tumbang SIJUNJUNG, HARIANHALUAN.COM—Diduga mendapatkan suntikan Imunisasi Measles Rubella (MR) dua kali di sekolahnya, murid kelas 2, Sekolah Dasar Negeri (SDN) 01 Sumpur Kudus bernama Yudhatul Hikmah (8) terpaksa dirawat dan menda.
  • Sabtu, 29 Juli 2017 - 11:47:17 WIB

    Sering Makan Telur Bisa Menyebabkan Bisul? Ini Penjelasannya

    Sering Makan Telur Bisa Menyebabkan Bisul? Ini Penjelasannya PADANG, HARIANHALUAN.COM—Anda pernah mengalami bisu? atau pernah mendengarnya? Bisul adalah penyakit yang timbul karena adanya infeksi pada kulit. Penyakit ini meiliki ciri-ciri timbulnya benjolan kemerahan pada kulit, dan .
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]