Meluruskan Pemahaman Biaya Pesantren Itu Mahal


Jumat, 12 Juni 2020 - 14:46:32 WIB
Meluruskan Pemahaman Biaya Pesantren Itu Mahal Irwan Natsir

Oleh: Irwan Natsir
(Sekretaris Umum Yayasan Thawalib Padang Panjang)

ADA yang berpikir, biaya masuk pesantren itu mahal. Kesimpulan tersebut dengan cara membandingkan biaya pesantren dengan biaya sekolah umum.  Perbandingan yang dibuat dengan sangat sederhana dengan melihat jumlah biaya masuk pesantren dengan biaya masuk sekolah umum.

Kesimpulan sederhana itu tersebut dengan berdasarkan acuan biaya yang ditetapkan masuk pesantren dan biaya masuk sekolah non pesantren. Kesimpulan tersebut dibuat seolah olah sudah benar.  Pendapatan semacam itu  seakan akan mengambarkan bahwa seluruh pesantren biayanya mahal.

Apakah benar  kesimpulan masuk pesantren biayanya mahal?

Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam swasta yang seluruh aktifitas dan operasional sekolah ditanggung sendiri. Semua biaya yang ada dalam pengelolaan pesantren, atas beban sendiri.  Maka, para ustad, guru dan karyawan yang mengajar dan bekerja di pesantren, mendapat gaji atau honor dari pengelola pesantren. Bukan dari negara atau pemerintah.

Jika pesantrennya sistim boarding school yakni santri tinggal di asrama. Maka beban biaya operasional semakin bertambah. Biaya listrik, biaya air, biaya asrama sampai biaya guru dan karyawan yang bekerja di asrama. Biaya biaya tersebut semuanya ditanggung oleh pengelola pesantren. Tidak ada dari pemerintah atau negara.

Bagaimana dengan sekolah umum dengan status sekolah negeri? Sangat jelas, semuanya ditanggung oleh negara. Gaji guru dan karyawan yang PNS dibayar oleh negara. Operasional sekolah dibebankan kepada pemerintah. Sehingga apapun biaya yang terjadi di sekolah, menjadi tanggungjawab negara. Maka, negara menetapkan anggaran penddiikan 20 persen untuk pendidikan. Dengan status seperti itu, maka umumnya sekolah negeri tidak ada pembayaran.

Tepatkah  memperbandingkan lembaga pendidikan swasta dalam hal ini pesantren yang menanggung biaya sendiri dengan sekolah negeri seperti itu ?

Tanggungjawab 24 Jam

Lalu, biaya masuk pesantren diperbandingkan lagi dengan lembaga pendidikan lainnya, apakah masuk perguruan tinggi atau sebagainya.

Memperbandingkan biaya pendidikan, lalu dibuat kesimpulan ini mahal dan itu murah, tidak semudah itu. Sebab, masalah pendidikan memiliki karakter dan performa yang beraneka ragam.  Misalnya, sekolah sekolah swasta umum dengan label unggulan, biaya masuknya cukup besar. Biaya tersebut tentu berbanding lurus dengan pelayanan yang diberikan seperti   sarana sekolah yang ada serta standar tenaga pengajar, sistim sekolah dan lainnya. Apakah ini bisa dikatakan mahal? Jelas tidak.

Sebab, ada orang yang memasukan anaknya ke sekolah swasta berlabel unggul, bahka disebut favorit dan bisakan disimpulkan itu mahal? Buktinya, betapa banyak sekolah swasta seperti itu dengan siswanya banyak.

Kembali ke pesantren. Ada yang luput dalam membuat perbandingan, yakni sistim pendidikan yang diterapkan. Di pesantren yang menerapkan pola boarding school, maka santri tinggal di asrama selama 24 jam. Santri mendapatkan penddiikan mulai pagi, siang sampai malam hari.

Misalnya di Perguruan Thawalib Padang Panjang, santri yang tinggal di asrama pagi hari belajar. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekstrakurikuler. Pada malam hari habis shalat isya, dilanjutkan lagi belajar malam, yakni belajar tahfiz quran dan belajar kitab kitab Thawalib.

Santri yang tinggal di pesantren, diawasi dan dididik selama 24 jam. Santri di kamar dijaga oleh guru asrama atau pengawas asrama. Kemudian, disediakan makan dalam bentuk katering. Seluruh pakaian santri dicuci dengan sistim laundry. Untuk kebutuhan mandi disediakan tempat mandi dan air.

Kemudian di pesantren, para santri mendapat pendidikan keagamaan yang cukup seperti shalat berjamaah lima waktu di masjid. Latihan pidato, latihan berbahasa dan sebagainya.

Artinya, jika orang tua menyekolahkan anaknya ke pesantren, maka pesantrenlah yang bertanggungjawab mendidik anaknya selama 24 jam.

Orang tua di rumah telah memindahkan urusan mendidik dan mengawasi putra putrinya sebelumnya kepada pesantren. Orang tua di rumah bisa dikatakan tidak lagi sibuk setiap hari mengurusi anaknya.

Apakah hal semacam ini tidak dijadikan bahan perbandingan di sekolah non pesantren?

Beban dan tanggungjawab mengurusi santri, mengawasi 24 jam dan mendidiknya bukanlah perkara mudah. Apalagi jumlah santri begitu banyak. Bandingkan dengan kita orang tua yang mengurusi anak beberapa orang di rumah.

Tugas mengawasi dan mendidik anak selama di pesantren diemban oleh pengelola pesantren yakni para guru asrama, para karyawan yang melayani kebutuhan santri.

Apakah tugas seperti ini bisa diperbandingkan? Apakah tugas selama 24 jam itu bisa diperbandingkan dengan sekolah yang tidak memakai sistim boarding school?

Maka, jika melakukan perbandingan biaya, harus dilihat secara komprehensif.  Harus dilihat secara detil dan mendalam satu lembaga pendidikan dan lembaga pendidikan lain.  Baru bisa mengambil kesimpulan secara objektif dan rasional.


Bukan Cari Keuntungan

Banyak pesantren adalah lembaga milik umat, bukan milik keluarga atau kelompok. Seperti Perguruan Thawalib Padang Panjang yang didirikan alim ulama Minangkabau di tahun 1911, adalah pesantren milik umat. Sejak didirikan sampai saat ini tidak ada kelompok atau golongan yang memilikinya, karena sejak pendirian sampai sekarang, adalah punya umat.

Lembaga pesantren yang  punya umat, pada dasarnya tidak mencari keuntungan atau istilahnya profit oriented. Banyak sekali tenggang rasa di pesantren seperti itu. Misalnya, biaya digratiskan bagi anak yatim dan fakir miskin. Biaya yang disesuaikan dengan keadaan perekonomian orang tua.  Bahkan seringkali terjadi orang tua meminta keringanan biaya dan sebagainya.

Meski pesantren milik umat, tentu pengelolaannya harus dilakukan secara baik. Layanan pendidikan yang diberikan kepada santri harus berjalan sesuai dengan kurikulum  yang ditetapkan dan sistim yang diaksanakan.

Pengelolaan professional juga harus diartinya bahwa mereka yang ikut terlibat dalam proses belajar mengajar seperti tenaga kependidikan maupun non kependidikan harus diperhatikan  kesejahteraan mereka. Sebab,  para guru dan karyawan juga memiliki tanggungjawab sebagai keluarga dan harus dihargai profesi dan pekerjaan mereka  secara  proporsional.

Semoga tulisan ini bisa memberikan pemahaman dan informasi untuk mendudukan kesimpulan sederhana tentang biaya masuk pesantren itu mahal.

Yang jelas, dengan menyekolahkan anak  ke pesantren, jangan khawatir masa depan anak kita. Sebab, sudah terbukti lulusan pesantren, ternyata   profesi dan pekerjaan mereka  beraneka ragam. Ada yang jadi polisi, TNI, jadi pegawai negeri,  dosen, anggota legislatif, wirausaha dan  yang jelas ada yang menjadi alim ulama.(*)

 Editor : Nova Anggraini

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]