Virus Corona Tak Langsung Mati setelah Orang yang Diinfeksi Meninggal


Sabtu, 13 Juni 2020 - 09:54:21 WIB
Virus Corona Tak Langsung Mati setelah Orang yang Diinfeksi Meninggal Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Di sejumlah tempat, masyarakat juga menolak kedatangan petugas kesehatan untuk dilakukan rapid test dalam rangka penanggulangan penyebaran virus corona atau Covid-19. Di antaranya adalah penolakan pedagang Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor.

Direktur Utama RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Dr Joni Wahyuhadi mengatakan memang perlu pendekatan yang efektif kepada masyarakat untuk memahamkan mengenai virus ini. Sebab Covid-19 adalah penyakit baru. Maka pendekatan yang dilakukan juga masih belum ada satu cara yang efektif.

"Memang covid ini barang baru, penyakit baru, walau infeksi virus corona sudah ada sejak lama. Jadi semua serba baru jadi tidak mudah memahamkan pada masyarakat," kata Joni dalam dialog Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Sabtu, 13 Juni 2020.

Ia mencontohkan, masyarakat memilih untuk menguburkan jenazah secara normal. Padahal pasien itu berstatus PDP atau bahkan positif. Sebab, berdasarkan penelitian di sejumlah negara membuktikan bahwa virus itu masih bisa bertahan dalam kurun waktu beberapa jam walau pasien sudah meninggal. Maka pemulasarannya harus sesuai prosedur penanganan pasien Covid-19 dengan dibungkus plastik dan menggunakan peti. 

Begitu juga dengan rapid test. Dia menjelaskan, rapid adalah tes yang dilakukan untuk melihat reaksi antibodi. Yang bereaksi, belum tentu positif Covid-19. Begitu juga yang tidak ada reaksi, belum tentu dia negatif. Karena antibodi bisa belum muncul di hari-hari pertama. Maka perlu dicek. Dia melihat, persoalan penolakan itu adalah masalah pemahaman saja.

"Jadi belum ada the best choice [dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat]," katanya.

Untuk itu, tugas yang harus dilakukan sekarang adalah terus menerus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai virus ini. Dia yakin akan ada cara yang baik untuk bisa memahamkan masyarakat.

Sementara itu, salah satu pedagang Pasar Cielungsi bernama Oby, mengatakan pihaknya menolak kedatangan petugas kesehatan untuk rapid test lantaran tidak ada pemberitahuan sebelumnya.

Dia sendiri akan mengikuti rapid test itu jika sebelumnya ada sosilisasi. Oby mengaku bukan persoalan takut hasilnya, tetapi mestinya ada sosilasisasi agar masyarakat mengerti. "Kami siap mematuhi peraturan yang berlaku," katanya. (*)

 Sumber : vivanews.com /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]