Sering Akses Facebook dan YouTube? Waspada, Anda Bisa Terjebak Hal Ini


Jumat, 19 Juni 2020 - 08:41:30 WIB
Sering Akses Facebook dan YouTube? Waspada, Anda Bisa Terjebak Hal Ini Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Pengguna internet yang sering menggunakan media sosial seperti Facebook dan YouTube untuk mencari informasi seputar virus Corona ditemukan lebih mudah percaya akan teori konspirasi seputar penyakit ini.

Hal ini merupakan hasil dari studi yang dilakukan oleh Ipsos Mori untuk King's College London. Temuan ini juga memperjelas bagaimana informasi menyesatkan tentang COVID-19 menyebar sekaligus sumbernya.

Dikutip detikINET dari CNBC, Kamis (18/6/2020) studi yang dilakukan di Inggris ini menemukan 30% responden yang disurvei pada akhir Mei percaya bahwa virus Corona diciptakan di laboratorium, naik 25% dari awal April.

Sementara itu 8% responden percaya gejala COVID-19 terkait dengan pancaran radiasi dari 5G, dan 7% percaya bahwa virus Corona sebenarnya tidak ada. Semua klaim ini telah dibantah oleh ilmuwan.

Studi tersebut mengatakan 60% dari mereka yang percaya bahwa 5G menyebabkan virus Corona mendapatkan informasi mereka dari YouTube, dibandingkan 14% dari mereka yang percaya klaim ini palsu.

Sementara itu, 56% orang yang percaya tidak ada bukti bahwa virus Corona eksis menggunakan Facebook untuk mendapatkan informasi, hampir tiga kali lebih tinggi dari 20% yang tidak percaya dengan klaim itu.

"Ini tidak mengejutkan, mengingat bahwa informasi di media sosial yang menyesatkan atau benar-benar salah," kata dosen senior di King's College London, Daniel Allington.

Studi ini juga menemukan bahwa pengguna media sosial untuk mencari informasi seputar COVID-19 akan lebih mungkin untuk melanggar aturan lockdown yang ditetapkan untuk mencegah penyebaran virus.

Peneliti mengatakan 58% orang yang keluar rumah saat memiliki gejala virus Corona menggunakan YouTube sebagai sumber informasi utama. Sedangkan 37% orang yang didatangi keluarga dan teman di rumahnya menggunakan Facebook sebagai sumber informasi.

"Sekarang setelah beberapa aturan lockdown dilonggarkan, orang-orang akan harus membuat keputusannya sendiri tentang apa yang aman atau tidak aman -- artinya akses terhadap informasi COVID-19 yang berkualitas akan sangat dibutuhkan," jelas Allington.

Facebook dan YouTube mengatakan mereka telah menghapus beberapa jenis misinformasi tentang virus Corona, misalnya tentang obat palsu yang diklaim bisa menyembuhkan dan teori bahwa virus ini terkait dengan 5G.

Kedua platform ini juga bekerja sama dengan otoritas kesehatan seperti World Health Organization dan National Health service di Inggris untuk menampilkan informasi yang akurat tentang virus Corona.

Tapi teori konspirasi seperti ini tetap terus menyebar. Di beberapa negara Eropa, menara 5G dibakar dan teknisi perusahaan telekomunikasi diganggu di jalanan oleh orang-orang yang mengklaim bahwa teknologi ini terkait dengan virus Corona.(*)

 Sumber : detik.com /  Editor : Nova Anggraini
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]