Dokter Reisa: Dexamethasone Bukan Obat Penangkal COVID-19


Jumat, 19 Juni 2020 - 18:53:51 WIB
Dokter Reisa: Dexamethasone Bukan Obat Penangkal COVID-19 Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Dokter Reisa Brotoasmoro. (Akun Youtube BNPB).

HARIANHALUAN.COM - Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Dokter Reisa Broto Asmoro memastikan bahwa obat Dexamethasone yang direkomendasikan WHO bukan vaksin Covid-19 melainkan hanya merupakan kombinasi obat-obatan.

Dr Reisa menjelaskan Dexamethasone merupakan obat golongan kortikosteroid. Dexamethasone bekerja dengan cara mengurangi peradangan dan menurunkan sistem kekebalan tubuh, sama seperti steroid yang dihasilkan oleh tubuh secara alami.

"Obat ini tidak memiliki khasiat pencegahan. Ini bukan penangkal COVID-19, ini bukan vaksin," kata dr Reisa dari Kantor BNPB, Jakarta, Jumat (19/6/2020).

Pada penggunaannya, Dexamethasone yang telah digunakan untuk jangka panjang, tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba. Dalam hal ini, dokterlah yang akan menurunkan dosis secara bertahap, sebelum menghentikan obat ini.

"Penderita yang telah mengkonsumsi untuk jangka panjang, tidak boleh menghentikan konsumsi obat secara tiba-tiba, tanpa sepengetahuan dokter. Penggunaan untuk jangka panjang juga ada efek sampingnya," jelasnya.

Dia menegaskan pembelian Dexamethasone tetap harus melalui resep dari dokter meski harganya terjangkau.

"Selalu konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan obat ini, agar tidak terjadi efek samping. Terutama, bila memiliki alergi pada makanan, obat, maupun bahan lain yang terkandung didalamnya," lanjutnya.

Lebih lanjut, Dokter Reisa juga menjelaskan bahwa penggunaan obat tersebut tidak boleh sembarangan diberikan kepada siapa saja dan harus melihat faktor usia.

"Karena dosis dan lama penggunaan Dexamethasone diberikan berdasarkan usia, kondisi, dan reaksi pasien tersebut terhadap obat," tutur dr Reisa.

Dokter Reisa menyebut rekomendasi dari WHO terkait obat Dexamethasone adalah untuk pasien konfirmasi positif covid-19 yang sakit berat, kritis, membutuhkan ventilator dan bantuan pernafasan, bukan terapi untuk kasus-kasus konfirmasi yang sakit ringan, atau tanpa gejala.

"Obat ini dianjurkan karena akan mengurangi jumlah kematian sebesar 20 sampai 30% dari kasus-kasus tersebut," kata dr Reisa.

Maka dari itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) akan memantau peredaran Dexamethasone di pasaran.

"Meski kita telah mendengar beberapa berita baik kemajuan dunia kesehatan, baik dalam negeri, maupun dari luar negeri di internasional, WHO sampai saat ini belum menentukan obat atau regimen data kombinasi pengobatan yang tetap untuk perawatan pasien COVID-19," pungkasnya.

Hingga saat ini, cara terbaik untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 adalah dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan air sesering mungkin dengan minimal 20 detik. (*)

 Sumber : detik.com /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]