Keluhan Pasien Covid-19 yang Baru Sembuh: Merasa Lesu Sepanjang Waktu, Seperti Tak Punya Energi  


Sabtu, 20 Juni 2020 - 18:29:28 WIB
Keluhan Pasien Covid-19 yang Baru Sembuh: Merasa Lesu Sepanjang Waktu, Seperti Tak Punya Energi   Ist

HARIANHALUAN.COM - Berbagai seruan kini muncul untuk meningkatkan kesadaran tentang efek jangka panjang dari virus Corona, seiring dengan adanya sejumlah pasien yang melaporkan gejala berkelanjutan selama berminggu-minggu.

Dikutip dari detik.com, Sabtu (20/6/2020), sejumlah orang menceritakan pengalaman mengalami gejala berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan setelah menderita COVID-19.

Para ilmuwan ingin memastikan apakah "sindrom pasca-COVID" mesti diakui sebagai penyakit.

Mereka percaya ini dapat membantu mendiagnosa dan merawat pasien yang terus mengalami komplikasi kesehatan.

Covid-19: Gejala, penyebaran, cara penanganan, pengobatan dan penyembuhan

Dexamethasone bisa selamatkan pasien Covid-19, kata ilmuwan Inggris

Inggris mulai uji vaksin Covid-19 ke manusia

'Tidak pernah sakit separah ini sebelumnya'

Seorang pegawai yang menangani panggilan layanan kesehatan NHS 111 Andy Tingle mengidap gejala-gejala virus corona sekitar 12 minggu yang lalu bersama dengan ayahnya, yang kemudian meninggal.

Tingle, 52 tahun, sejak itu berjuang dengan masalah kesehatan, termasuk masalah dengan jantungnya.

Mantan paramedis itu berkata bahwa dia bahkan kesulitan untuk menaiki tangga dan seringkali merasa sangat lelah sehingga dia harus tidur.

Tingle, asal Sheffield, Inggris, mengatakan: "Saya tidak pernah sakit separah maupun sakit dengan durasi panjang seperti yang saya mengalami ini.

"Benar-benar menyedihkan, setelah pulih dari gejala COVID dan kemudian mengalami gejala-gejala lain-lain, yang tidak pernah benar-benar berakhir."

"Saya pernah mencoba tidur sambil bertanya-tanya apakah saya akan bangun keesokan paginya - hal itu sangat menakutkan."

"Pada titik tertentu Anda mulai meragukan diri sendiri, apakah Anda membuat diri Anda sakit, ketika mengharapkan itu hanya sepanjang 14 hari dan akan berlalu, kembali bugar dan sehat lagi."

"Tetapi kenyataannya tidak begitu ketika sudah terinfeksi, berlanjut, ada komplikasi yang mengikutinya."

Kelompok dukungan online telah dibentuk untuk orang-orang yang terus menderita masalah kesehatan persisten setelah didiagnosa mengidap COVID-19.

Alison Cairess, 57, mengatakan dia sudah mulai mempertanyakan kewarasannya sampai dia membaca tentang orang lain yang mengalami pengalaman serupa.

Sebelum sakit, dia lari setiap hari tetapi baru-baru ini dia beristirahat dan berusaha pulih dari "salah satu pengalaman terburuk dalam hidupku".

Mantan guru dari Bradford itu telah mengunjungi dokter yang menyarankan dia mungkin mengalami kecemasan atau menopause.

"Saya menganggap diri saya orang yang cukup kuat tetapi kadang-kadang membuat saya sedih," katanya.

"Ketika teman-teman menelepon dan mengatakan 'apa kabar?' mereka mengharapkan saya untuk mengatakan 'Saya lebih baik sekarang' tetapi tidak, saya masih sedang melaluinya.

"Bahkan keluarga dekat saya mempertanyakan apakah saya sakit."

"Aku melihat ibuku untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, dia berkata 'oh kamu terlihat sangat baik'."

"Kulit aku menjadi sedikit berwarna lagi karena aku telah berbaring di bawah sinar matahari, tetapi tetap tidak merasa sehat."

Sekitar 19 dari 20 pasien dengan virus Corona pulih tanpa dirawat di rumah sakit.

Namun, beberapa orang telah melaporkan dampak jangka panjang pada kesehatan mereka, termasuk kelelahan yang berkelanjutan.

Faye Emily, 32 tahun, positif mengidap virus Corona dan dirawat karena peradangan jantung.

Ahli kecantikan dari Leeds itu mengatakan: "Bahkan sekarang, setelah virus itu, saya merasa lesu sepanjang waktu, seperti saya tidak punya energi."

"Perlu lebih banyak dukungan untuk pasien pasca-COVID, secara mental dan fisik."

Selama 18 bulan ke depan, para peneliti di King's College London akan menggunakan data dari aplikasi pelacak kesehatan untuk mereka melihat apakah sistem kekebalan dapat memprediksi siapa yang akan mengidap gejala kelelahan kronis pasca virus setelah COVID-19.

Frances Williams, profesor epidemiologi genomik di universitas itu, mengatakan dia menduga "sindrom pasca-COVID" memiliki fitur unik, namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahaminya.

Dia berkata: "Sangat penting bagi untuk mengeksplorasi apakah itu penyakit yang terpisah sendiri, kita tidak memiliki data untuk mengatakan bahwa itu pasti, tetapi itu terlihat seperti itu."

Seorang juru bicara layanan kesehatan nasional di Inggris (NHS) mengatakan: "Menanggapi darurat kesehatan terbesar saat ini, staf garis depan dan staf pendukung di NHS telah menggerakkan langit dan bumi untuk menyediakan perawatan ahli bagi puluhan ribu pasien COVID yang dirawat di rumah sakit kami."

"Sementara negara kita mulai bangkit kembali pasca puncak virus corona, fase selanjutnya dari tanggapan layanan kesehatan terhadap virus Corona akan berarti memperluas dan memperkuat layanan kesehatan dan perawatan masyarakat dengan cara-cara baru, serta menyiapkan perawatan psikologis tambahan untuk staf." (*)

 Sumber : Detik.com /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]