Suku Maya Ramalkan Kiamat 21 Juni 2020, Astronom Dubai: Tak Logis


Sabtu, 20 Juni 2020 - 19:32:51 WIB
Suku Maya Ramalkan Kiamat 21 Juni 2020, Astronom Dubai: Tak Logis Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Belakangan ini, orang-orang tengah ramai memperbincangkan isu terkait ramalan kalender suku maya. Dimana suku maya telah meramalkan bahwa pada hari Minggu 21 Juni 2020 akan terjadi kiamat besar. Apalagi, pada 21 Juni 2020 Bumi akan mengalami kehadiran fenomena gerhana Matahari cincin.

Terkait dengan ramalan kiamat ini, diketahui bahwa CEO Grup Astronomi Dubai, Hadan Al Hariri telah memberikan sejumlah pandangan pada isu ini. Dikuti dari PikiranRakyat.com, Sabtu (20/6) Hasan Al Hariri berpendapat bahwa dirinya tidak setuju dengan ramalan kalender suku maya yang menyebutkan akan terjadi kiamat pada hari minggu besok.

Di mana teori kiamat ini juga dikaitkan dengan terjadinya fenomena alam gerhana Matahari cincin yang akan terjadi. Terlebih, Al Hariri selama ini menganggap pengetahuan sains sebagai ilmu yang dipahami dengan rasa syukur, sehingga melihat fenomena alam sebagai sesuatu yang bisa dinikmati, bukan dikaitkan dengan rumor tertentu.

“Sains itu elegan dan indah, tetapi itu membutuhkan upaya untuk memahami. Ini adalah kesempatan emas untuk memberi orang pelajaaaran," ujar Al Hariri.

Lebih lanjut, Al Hariri berpendapat teori kiamat 21 Juni 2020 adalah sangat tidak ilmiah dan tidak logis. "Setiap orang dengan temperamen ilmiah, tidak harus seorang ilmuwan, tidak dapat mendukung jenis pesan ini," katanya.

Sebagai pengamat langit, Hasan menjelaskan UAE juga akan menyaksikan fenomena langka pada pagi hari 21 Juni 2020 yang digambarkan sebagai gerhana matahari sebagian dengan cakupan besar piringan matahari di bulan. Dalam detail, Hasan menggambarkan keadaan bulan akan menutupi hampir 86,31 persen dari cakram matahari, sehingga hanya gerhana matahari parsial yang akan terlihat di wilayah UAE.

Adapun rentang waktu terlihatnya, dimulai sejak pukul 08.14 waktu setempat, tepat saat bulan akan bergerak di depan matahari, hingga diperkirakan berakhir pada pukul 11.12 pagi. Selain itu, Hasan menyarankan masyarakat untuk mengamati fenomena surgawi ini dengan mengambil sejumlah tindakan pencegahan.

Pasalnya, fenomena itu membuat matahari akan sangat terang dan memancarkan cahaya intensif. “Ini terlalu berlebihan untuk mata kita. Jadi jika kita melihatnya tanpa perlindungan, penglihatan kita akan rusak,” katanya.

"Harap lebih berhati-hati karena kali ini gerhana terjadi pada siang hari pukul 08.14 pagi, ketika sebagian besar masyarakat sudah berada di luar atau mungkin dalam perjalanan ke kantor. Tidak seperti terakhir kali ketika itu (gerhana matahari, red.) terjadi lebih awal (pagi, red.)," tambah Hasan Al Hariri.

Sedangkan berdasarkan kejadian yang menimpa anak-anak sekolah di Rajasthan, India menyaksikan fenomena gerhana, justru merusak retina mata sepenuhnya dan sebagian, akibat dari mengamati gerhana matahari tanpa perlindungan yang layak. Sementara itu, jalur lintasan gerhana matahari cincin akan dimulai di Afrika Tengah dan bergerak melalui Arab Saudi, India Utara, Tiongkok Selatan hingga berakhir di Samudra Pasifik. (*)

Reporter : Merinda Faradianti /  Sumber : Pikiran Rakyat /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]