Begini Batasan Asupan Gula, Garam, dan Lemak bagi Tubuh Demi Mencegah Sindrom Metabolik


Senin, 22 Juni 2020 - 14:42:15 WIB
Begini Batasan Asupan Gula, Garam, dan Lemak bagi Tubuh Demi Mencegah Sindrom Metabolik Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Di Indonesia memiliki berbagai kuliner enak yang dapat dijumpai di mana pun. Makanan manis dan gurih umumnya menjadi favorit masyarakat. Apalagi karbohidrat yang menjafi konsumsi wajib bagi masyarakat Indonesia setiap hari. Namun, pola makan yang tidak sehat dan berlebihan akan membuat kadar lemak di tubuh menumpuk. 

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2018 yang dikutip dari Tribunbanjar, Senin (22/6) sebesar 31 persen masyarakat mempunyai kadar lemak perut atau visceral fat yang tinggi. Padahal, timbunan lemak di sekitar organ dalam ini dapat menimbulkan berbagai penyakit. 

Certified Nutrition and Wellness Consultant Nutrifood, Moch Aldis Ruslialdi menjelaskan tumpukan lemak di perut tersebut dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik yaitu hipertensi, hiperkolesterolemia, trigliserida tinggi, diabetes, dan obesitas. Seseorang yang mengalami tiga di antara kondisi ini dapat dikatakan menderita penyakit sindrom metabolik

"Pencegahan sindrom metabolik adalah dengan melakukan pola makan yang sehat, yang paling penting adalah membatasi jumlah gula, garam dan lemak (GGL)," ujarnya melalui webinar Nutriclass.

Ia menjabarkan, jumlah GGL yang direkomendasikan hanya sebesar 50 gram gula atau setara dengan 5-9 sendok teh, 5 gram garam atau yang setara dengan satu sendok teh, dan 67 gram lemak atau setara dengan tiga sendok makan minyak. Penyakit sindrom metabolik ini tidak hanya berpotensi menyerang orang dengan berat badan berlebih, namun juga dapat dialami orang berat badan ideal bahkan kurus.

"Istilah Thin Outside, Fat Inside (TOFI) yakni Timbangan berat badan cenderung normal bahkan kurus namun memiliki lemak tubuh yang tinggi. Banyak dijumpai orang memiliki badan yang kurus namun perutnya buncit, hal ini justru lebih berbahaya karena visceral fat atau lemak perutnya tinggi," imbuhnya.

Faktor risiko sindrom metabolik yang tidak dapat diubah yakni faktor genetik atau faktor keturunan dari orang tua yang membuat anak-anaknya rentan mengalami penyakit serupa misalnya diabetes. Selain faktor genetik, faktor gaya hidup dan pola makan yang sehat mampu mencegah terjadinya sindrom metabolik ini. Diet merupakan salah satu cara yang baik dalam menekan atau mengurangi lemak jahat dalam tubuh.

Aldis mengatakan, hasil diet yang baik adalah terjadi penurunan berat badan 0,5-1,5 kilogram per minggu. Apabila lebih dari angka tersebut harus waspada justru akan berakibat fatal bagi tubuh. (*)

Reporter : Merinda Faradianti /  Sumber : Tribunbanjar.com /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]