Jepang dan China Bersitegang, Semuanya Berawal dari..


Selasa, 23 Juni 2020 - 15:05:04 WIB
Jepang dan China Bersitegang, Semuanya Berawal dari.. Perdana Menteri Cina Li Keqiang, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri Jepang Taro Kono menghadiri upacara penandatanganan di Aula Besar Rakyat di Beijing, China. (REUTERS / Thomas Peter)

HARIANHALUAN.COM - Setelah Amerika Serikat dan India, kini China bersitegang dengan negara tetangganya Jepang. Kedua negara bersitegang soal pulau sengketa Senkaku (nama dari Jepang) atau Diaoyu (nama dari China).

Seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (23/6/2020), pulau tak berpenghuni tersebut berada di Kepulauan Pinnacle, yang saat ini berada di bawah administrasi Jepang. Pulau ini juga diklaim oleh China sebagai bagian dari Kecamatan Toucheng, Kabupaten Yilan.

Lalu bagaimana semuanya berawal?

Ketegangan yang terjadi sejak lama, namun kembali memanas di 2012 lalu. Pada tahun itu, Jepang atas inisiatif Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara, menasionalisasi pulau-pulau yang dimiliki swasta untuk menangkal penjualan.

Ishihara dikenal sebagai gubernur nasionalis garis keras yang berharap dapat mengembangkan pulau-pulau tersebut. Peristiwa ini yang mulai meningkatkan ketegangan antara pemerintah China dan Jepang.

Rencana ini memicu protes besar dan sangat tidak biasa di China. Demonstrasi berubah menjadi kekerasan.

Para pengunjuk rasa melemparkan puing-puing ke Kedutaan Besar Jepang di Beijing, menggeledah toko dan restoran Jepang serta menjungkirbalikkan mobil asal Jepang. Bahkan ada seorang pria China dipukul hingga koma oleh rekan-rekannya hanya karena ia mengendarai Toyota Corolla yang berasal dari Jepang.

Ketegangan kembali meningkat di 2020 ini. Hal tersebut terjadi saat Jepang melalui Majelis Kota Ishigaki di prefektur Okinawa hendak mengesahkan undang-undang yang mengubah nama wilayah administrasi Tonoshiro menjadi Tonoshiro Senkaku.

Langkah ini diambil karena kerap terjadi kesalahan area, mengingat Jepang memiliki dua daerah dengan nama Tonoshiro. Perubahan nama ini berlaku 1 Oktober.

Kementerian Luar Negeri China sempat memperingatkan perubahan status quo di kepulauan itu pada Jumat (19/6/2020) lalu. "Kami meminta Jepang untuk mematuhi semangat konsensus empat prinsip, menghindari menciptakan insiden baru pada masalah Kepulauan Diaoyu dan mengambil tindakan praktis untuk menjaga stabilitas situasi Laut Cina Timur," tulis pernyataan China.

China bahkan sempat mengintensifkan pengawasan di pulau sengketa ini sejak 14 April. Kapal penjaga pantai China kerap memasuki area tersebut dan membuat Jepang menyampaikan nota keberatan.

Bahkan pada hari yang sama pengesahan UU tersebut, yakni Senin (22/6/2020), terlihat empat kapal China berada di sekitar pulau-pulau yang disengketakan. Menandai 70 hari berturut-turut hadirnya armada China di wilayah tersebut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengatakan China bakal mengambil tindakan tegas. "Ini provokasi serius terhadap kedaulatan wilayah China. Kepulauan Diaoyu dan pulau-pulau sekitarnya selalu menjadi bagian yang melekat dari wilayah China, dan China memiliki keinginan yang tak tergoyahkan untuk melindungi kedaulatannya sendiri," katanya.

Menanggapi meningkatnya kehadiran kapal China, Yoshihide Suga selaku kepala sekretaris kabinet Jepang, menegaskan kembali tekad Tokyo. "Kepulauan Senkaku berada di bawah kendali kami dan tidak diragukan lagi wilayah kami secara historis dan hukum internasional. Sangat serius bahwa kegiatan ini berlanjut. Kami akan menanggapi pihak China dengan tegas dan tenang," kata Suga.

Sementara itu, ketegangan antara China dan Jepang atas pulau ini dapat memicu konfrontasi dengan AS. Pasalnya AS memiliki perjanjian pertahanan bersama dengan Jepang.

Jika wilayah Jepang diserang oleh kekuatan asing, AS wajib mempertahankannya. Kekhawatiran kemungkinan konfrontasi meningkat minggu lalu seiring dengan masuknya China ke pulau tersebut.

Di sisi lain, AS sendiri memang sudah bersitegang dengan China di banyak hal. Salah satunya asal usul corona, Hong Kong, Taiwan dan Laut China Selatan menjadi pusaran konflik.

Bahkan kedua negara tak segan adu militer di kawasan Taiwan dan Laut China Selatan. Terakhir, tiga kapal induk AS bersiaga dan membuat panas China pada akhir pekan kemarin.

Kapal perang AS berjaga di area perairan Filipina. Filipina dan China sendiri bersitegang karena Kepulauan Paracels dan menggaet AS untuk latihan militer. (*)

 Sumber : CNBC Indonesia /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]