Wakil Rektor UIN Jakarta Berharap Perguruan Thawalib Didesain Sesuai Zaman Sekarang


Kamis, 25 Juni 2020 - 09:17:36 WIB
Wakil Rektor UIN Jakarta Berharap Perguruan Thawalib Didesain Sesuai Zaman Sekarang Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Prof. Dr. Masri Mansoer, MA,

HARIANHALUAN.COM - Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta Prof. Dr. Masri Mansoer, MA, berharap Perguruan Thawalib Padang Panjang sebagai lembaga pendidikan Islam modern pertama untuk bisa memadukan pendidikan ke-Islaman, keilmuan dan ke-Indonesiaan. Sehingga nantinya lulusan Thawalib sebagai santri yang kuat dalam berbagai aspek.

Hal tersebutr disampaikan Prof. Dr. Masri Mansoer, M.Aq kepada harianhaluan.com, Kamis (25/6/2020) memberikan tanggapan terhadap usia Perguruan Thawalib Padang Panjang yang memasuki 109 tahun.

Sebagaimana diketahui, Perguruan Thawalib  merupakan sekolah Islam modern pertama di zaman Hindia Belanda yang digagas oleh Syekh Abdul Karim Amarullah (Ayah Buya Hamka) dengan menggunakan bangku, meja dan gedung dalam sarana pendidikan pada  tahun 1918. Thawalib yang didirikan 1911 tersebut, sebelumnya berawal dari pengajian surau di Jembatan Besi dalam bentuk halaqah (duduk bersila) yang dipelopori oleh Syekh Abdullah.

Masri Mansoer dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam asal Sumatera Barat ini mengatakan,  harus diakui bahwa Perguruan Thawalaib adalah lembaga pendidikan Islam modern pertama yang telah berhasil mencetak tokoh ulama. Hal itu telah dibuktikan dengan lahirnya para alim ulama bukan saja untuk level Sumatera Barat tapi Indonesia. “Sudah tak terhitung berapa banyak alim ulama yang lahir dari pendidikan di Thawalib berkiprah di berbagai level regional Sumatera Barat sampai nasional,” ujarnya.

Bagi lelaki kelahiran Paninggahan, Solok 6 Oktober 1962 ini, keberhasilan Perguruan Thawalib melahirkan para alim ulama tersebut,  disebabkan para pengelola Thawalib mampu mendisain  sistim pendidikan yang diterapkan di Thawalib melampaui zamannya. “Para pengelola Thawalib seperti Syekh Abdul Karim Amarullah, Datuak Palimo Kayo, Buya Abdul Hamid Hakim, Zainal Abidin Ahmad  sampai Buya Mawardi Muhammad, telah berhasil mendisain Thawalib sehingga mencetak  tokoh  ulama,” kata Masri Mansoer.

Menurut Guru Besar Sosiologi ini, para pengelola Thawalib saat ini diharapkan mampu mendisain kembali sesuai dengan zaman saat. Sebab, perubahan zaman sekarang dengan dulu tentu harus disikapi dengan objektif dan Thawalib harus mampu menyesuaikan zaman saat ini.

Pendidikan Berkemajuan

Masri Mansoer yang aktif mengajar  sebagai dosen selain di UIN Syarif Hidayatullah, juga di Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Universitas Hamka Jakarta, mengatakan bahwa ada hal yang harus menjadi perhatian bagi pengelola Thawalib terkait penddikan dewasa ini, yakni kurangnya integrative  ke-Islaman, kelilmuan dank e-Indonesian.   Yang muncul seolah olah pendidikan berdiri masing masing dan terpisah. Padahal, hal tersebut harus menjadi kesatuan dan bisa diintegrasikan, sehingga memiliki kekuatan yang lebih hebat.

“Saya berharap Thawalib bisa mengintegrasikan pendidikan ke-Islaman, keilmuan dan  ke-Indonesian. Saya melihat potensi itu ada di Thawalib, sebab jika membaca sejarah Thawalib bahwa yang dilahirkan adalah ulama yang memiliki kelimuan yang kuat dan rasa keindonesian yang tinggi. Bahkan, ada politisi yang tamatan Thawalib yang juga memiliki hal hal tersebut. Jadi ini modal besar bagi Thawalib melakukan integrasi tersebut,” kata Masri Mansoer.

Harapan lain yang disampaikan Masri Mansoer terhadap Perguruan Thawalib adalah agar Thawalib tetap dan bisa mendidik manusia secara proporsional sebagai al-basyar, al-insan dan al-annas.  Sebab hakikat utama pendidikan Islam harus bisa mendidik dan melahirkan manusia semacam itu. “Melihat perjalanan Thawalib sudah 109 tahun, saya berkeyakinan Thawalib bisa melakukan mendidik manusia secara proporsional tersebut,” jelasnya.

Kemudian, Masri Mansoer memberikan apresiasi terhadap pengelolaan Thawalib dengan mengedepankan tata kelola professional, akuntabel dan transparan. Sebab, jika lembaga pendidikan bisa eksis dan berkemajuan maka haruslah dikelola oleh orang orang yang integrative, visioner, professional, akuntabel dan berkarakter nabi Muhammad SAW.

Dan tak kalah penting Thawalib jiga harus mendisain kurikulum dengan perkembangan kemajuan dunia yang dikenal dengan revolusi 4,0.

Masri Mansoer   mengenyam pendidikan di  Tsanawiyah dan Pendidikan Guru Agama di Koto Baru, Solok ini mengaku, meski tidak bersekolah di Thawalib, namun dirinya banyak bergaul dengan para alumni Thawalib.

Sejak tahun 1982 sampai saat ini, Masri Mansoer  menghabiskan waktunya di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta . Sehingga tidak asing bergaul dengan alumni Thawalib. Sebab, begitu banyak alumni Thawalib yang kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, baik jenjang pendidikan S1, S2 maupun S3.

Dalam catatan, Pimpinan Perguruan Thawalib Buya Dr. H. Zulkarnaini, M.Ag gelar doktornya diraih dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Ketua Dewan Pembina Yayasan Thawalib Drs. H. Guspardi Gaus, M.Si juga kuliah di UIN Jakarta. Begitu pula sejumlah alumni lain seperti Prof. Dr. Amsal Bakhtiar dan banyak lagi lulusan Thawalib yang melanjutkan ke UIN Jakarta. (*)
 

 Sumber : rilis /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]