Akhir Misteri Pengisap Darah Ternak Dikira 'Homang', Ternyata Musang


Sabtu, 27 Juni 2020 - 21:17:46 WIB
Akhir Misteri Pengisap Darah Ternak Dikira 'Homang', Ternyata Musang Hewan ternak di Taput mati misterius (dok. Istimewa)

HARIANHALUAN.COM - Teka-teki hewan misterius pengisap puluhan hewan ternak di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, hingga mati akhirnya terungkap. Dugaan sementara, hewan yang melakukan itu masih masuk keluarga musang.

Terbaru, Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Sumatera Utara (Sumut) Teguh Setiawan telah menyampaikan dugaan sementara menyibak misteri yang meresahkan warga itu.

"Tim sekarang masih bekerja. Jadi pasti kami belum bisa menentukan hewannya hewan apa. Dugaan kami mengarah ke sana (musang). Karena pengakuan masyarakat, berbulu, warna hitam, ada garis putih. Kita mengarahnya ke keluarga musang. Ini masih dugaan sementara," ujar Teguh saat dimintai konfirmasi, Jumat (26/6/2020).

Dia mengatakan dugaan sementara ini diperoleh dari keterangan masyarakat setempat. Menurut masyarakat setempat, kata Teguh, hewan itu sempat terlihat di sekitar wilayah tersebut.

"Menurut penuturan masyarakat, mereka melihat," ujar Teguh.

Teguh menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah setempat, TNI-Polri, serta masyarakat. Penyelidikan masih berlangsung.

Bupati Taput Nikson Nababan juga mengatakan puluhan hewan itu mati akibat serangan hewan buas. Hal itu, kata Nikson, merupakan informasi sementara berdasarkan hasil laboratorium forensik (labfor) Polda Sumut.

"Hasil laboratorium forensik yang sudah datang dari Polda Sumatera Utara dan sudah melihat semua hasil dari foto dan di lapangan bahwa itu penyebabnya adalah binatang buas," ucap Nikson.

Dia meminta warga tak mengaitkan peristiwa ini dengan hal mistis. Nikson juga meminta, jika ada hewan ternak mati mendadak lagi, warga melapor.

Sejumlah orang sebelumnya mengaitkan misteri kematian puluhan ternak itu dengan makhluk gaib 'homang'. Homang adalah makhluk berwujud menyeramkan yang dikenal lewat cerita masyarakat setempat.

"Ada anggapan begitu dari beberapa orang," kata Bupati Taput Nikson Nababan saat dimintai konfirmasi, Senin (22/6/2020).

Homang dikenal masyarakat setempat berupa sosok makhluk besar berwarna hitam, punya bulu panjang, hingga kuku panjang untuk mencakar mangsanya. Homang diceritakan tinggal di dalam hutan yang jarang dikunjungi manusia. Homang juga disebutkan bisa membuat orang tersesat di dalam hutan karena bisa meniru suara manusia.

Namun temuan di lapangan, misteri kematian puluhan hewan ternak tersebut tidak mengarah pada mitos. Ada jejak kaki di lokasi ternak mati. Kandang ternak juga diduga didobrak.

Nikson menduga serangan ke hewan-hewan ternak ini dilakukan hewan pemangsa. Meski demikian, Nikson tetap menunggu investigasi mendalam agar kasus ini bisa terungkap.

"Mudah-mudahan saja binatang itu. Kemarin TNI-Polri dan kita sudah memasang jebakan-jebakan dan tim hari ini turun lagi untuk berburu," ujarnya.

Soal Makhluk Gaib Homang

Makhluk gaib homang disebut ada di balik misteri matinya puluhan ternak di Taput. Apa itu homang alias hantu hutan (begu) yang diyakini sebagian warga mengisap darah hewan ternak di Taput

Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan (Unimed) Erond L Damanik mengatakan ada berbagai jenis cerita rakyat yang menyangkut homang. Dosen Program Studi Antropologi FIS Unimed ini juga mengatakan makhluk gaib seperti homang punya nama lain di tiap daerah.

"Kalau di Toba, 'homang', kalau di Simalungun itu 'homin', kalau di Karo dia 'kemang'," ujar Erond, Senin (22/6/2020).

Dia mengatakan homang dan makhluk gaib lainnya sering diceritakan memiliki wujud tertentu. Erond mencontohkan soal telapak kaki terbalik yang kerap dikaitkan dengan makhluk gaib seperti homang.

"Itu kan disebutkan binatang yang kalau dia maju itu telapak kakinya mengarah ke belakang. Mana ada binatang yang kayak gitu, itu kan kepercayaan-kepercayaan populasi asli di Indonesia. Itu sebelum masuknya agama samawi," ucapnya.

Erond menyebut keberadaan homang dan sejenisnya cuma legenda masyarakat. Dia juga bercerita soal adanya larangan masyarakat mencari jejak homang sesuai arah telapak kaki.

"Kalau kita mencari jejak seperti ini dalam legendanya, jangan pernah mengikuti jejak langkahnya ke depan, karena kalau kita ikuti jejak langkahnya ke depan itu berarti kita mundur, dia harus terbalik mengikuti jejaknya dan itu objek riilnya nggak ada. Itu hanya legenda," ujarnya.

"Di Karo itu lebih lengkap lagi, di Karo itu sampai tempat penghuniannya. Sampai ada gua Kemang seperti yang di Sembahe. Ada itu situs gua Kemang gitu. Tapi hasil penyelidikan arkeologi yang pernah kami lakukan, itu bukan. Sebenarnya itu adalah kuburan batu, terutama untuk menyimpan tulang belulang," sambung Erond.

Lalu, apakah mungkin hewan ternak di Taput diisap darahnya oleh homang?

"Mana ada itu," jawab Erond.

Bupati Buat Sayembara

Bupati Taput Nikson Nababan mengatakan dirinya membuat sayembara untuk menguak misteri kasus ini. Ada imbalan bagi warga yang bisa menangkap makhluk itu.

"Ya betul saya beri hadiah Rp 10 juta bagi siapa yang bisa menangkap makhluk tersebut," kata Nikson saat dimintai konfirmasi, Minggu (21/6).

Dia mengaku telah menerima laporan ada puluhan ternak mulai dari ayam hingga babi yang mati pekan lalu. Nikson mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan TNI-Poliri untuk menyelidiki masalah ini.

Selain itu, Nikson juga menunggu hasil investigasi lengkap untuk menentukan apakah ada kompensasi dari Pemkab terkait ternak yang mati itu. Dia mengatakan pihaknya masih menunggu benar tidaknya ada makhluk misterius yang membuat ternak-ternak tersebut mati.

"Kita pastikan dulu makhluk ini ada betul atau tidak dan bisa ditangkap, baru nanti kita pikirkan kompensasi terhadap ternak warga yang mati," ucap Nikson. (*)

 Sumber : detik.com /  Editor : Heldi Satria

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]