Kearifan Lokal Gagalkan Rencana BKSDA Bedah Bangkai Satwa Dilindungi di Pasaman

- Selasa, 28 September 2021 | 09:41 WIB
Petugas BKSDA Sumbar  didampingi pihak kepolisian berusaha meyakinkan warga untuk membawa bangkai untuk tujuan nekropsi.
Petugas BKSDA Sumbar didampingi pihak kepolisian berusaha meyakinkan warga untuk membawa bangkai untuk tujuan nekropsi.

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM -- Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat, Ardi Andono, menyayangkan sikap masyarakat Pasaman yang tidak mengizinkan petugas melakukan nekropsi (bedah bangkai) terhadap satwa dilindungi yang ditemukan mati di wilayah itu.

"Sangat menyayangkan sikap masyarakat yang tidak memperkenankan dilakukan nekropsi. Melakukan olah TKP dan proses nekropsi untuk memastikan penyebab kematian satwa sangatlah penting sekali diketahui," ujar Ardi didampingi Kepala KSDA Pasaman, Rusdian Ritonga, Selasa (28/9/2021).

Pihaknya, kata dia, sangat menghargai budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat. Namun, mengetahui penyebab kematian satwa juga merupakan suatu hal yang tidak boleh diabaikan.

"Kami menghargai budaya dan kearifan lokal masyarakat. Namun, jika ternyata penyebab kematian adalah virus atau penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia) maka hal ini akan membahayakan sekali bagi masyarakat yang sudah kontak langsung dengan bangkai satwa," imbuhnya.

Apalagi, kata dia, saat ini sudah teridentifikasi virus ASF (african swan fever) menjangkiti satwa liar yang hidup di hutan Sumatera terutama jenis babi hutan. Virus tersebut bisa menjangkiti manusia dan sangat berbahaya.

Pihaknya berharap bisa bersinergi dengan tokoh masyarakat dan para pemuka agama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya memperhatikan tinjauan scientific selain tinjauan adat dan budaya dalam melestarikan lingkungan dan keanekaragaman hayati.

"Kami memohon kepada tokoh-tokoh masyarakat dan alim ulama dapat bersinergi dengan BKSDA Sumbar, untuk meluruskan pemahaman-pemahaman yang kurang tepat dalam memperlakukan satwa dan alam.

Sebelumnya, kematian dua satwa dilindungi di Pasaman, yakni harimau sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) di Ulu Sontang, Nagari Sontang Cubadak, Kecamatan Padanggelugur, dan terbaru, macan dahan (Neofelis diardi), di Kampung Pinang, Nagari Cubadak, Kecamatan Duokoto, Senin (27/9/2021) tidak terungkap.

Masyarakat enggan menyerahkan bangkai satwa kepada petugas untuk dilakukan nekropsi, karena keyakinan mereka bahwa harimau dan macan tersebut adalah leluhur yang menjaga mereka secara turun temurun. Oleh masyarakat setempat, bangkai satwa itu dikafani dan dimakamkan secara adat. (*)

Halaman:

Editor: Rahma Nurjana

Tags

Terkini

Baznas Agam Targetkan Zakat Rp11 Miliar Tahun 2022

Kamis, 21 Oktober 2021 | 08:16 WIB
X