HARIAN HALUAN DI TENGAH KELINDAN SEJARAH: Layar Terkembang di Era Digital

- Jumat, 1 Oktober 2021 | 18:23 WIB
Mulanya, Haluan terbit tidak teratur. Namun lambut-laun, surat kabar asuhan Kasoema itu mulai rutin terbit setiap hari. Hingga memasuki era
Mulanya, Haluan terbit tidak teratur. Namun lambut-laun, surat kabar asuhan Kasoema itu mulai rutin terbit setiap hari. Hingga memasuki era

Layar Terkembang di Era Digital

Kemajuan teknologi informasi yang amat pesat dalam dua dekade terakhir ikut memberikan dampak besar bagi dinamika pers dunia. Kemunculan media-media dalam jaringan (daring) menyusul perkembangan teknologi tersebut perlahan mulai menggeser posisi media cetak yang pada millenium sebelumnya begitu mendominasi.

Fenomena ini tak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga melanda seluruh dunia. Di Indonesia, turbulensi yang mengguncang media cetak ini mulai terasa dekat dan nyata ketika salah satu tabloid olahraga yang teah lama melegenda, Tabloid Bola tutup usia pada 2018 lalu.

Kemunculan media-media daring yang seperti jamur di musim hujan juga terjadi di Sumbar. Dalam beberapa tahun terakhir setidaknya ada ratusan media daring yang muncul di Sumbar.

“Saat ini, jumlah media daring di Sumbar yang telah terverifikasi ada sekitar 39 media. Akan tetapi, di luar itu, yang belum terdaftar mungkin jumlahnnya sudah ratusan,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Sumbar, Jasman Rizal kepada Haluan, Selasa (29/9).

Di sisi lain, media cetak mulai kehabisan nafas. Di Sumbar sendiri hanya tersisa sekitar enam media cetak harian yang masih eksis. Keenamnya adalah Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Posmetro, Rakyat Sumbar, dan Khazanah.

Biarpun demikian, menurut Jasman, keberadaan media cetak belum akan tergantikan oleh media daring. Paling tidak, hingga beberapa tahun ke depan. Alasannya, media cetak dan media daring punya segmen pangsa pasar yang berbeda.

“Ditambah lagi, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap media cetak masih tinggi. Orang masih lebih percaya dengan berita yang disajikan oleh media cetak ketimbang media daring. Terlebih saat ini ketika media daring banyakyang terjebak hoaks,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Pakar Komunkasi Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Abdullah Khusairi. Menurutnya, tipikal media daring yang berpacu dengan kecepatan memiliki kelemahan dalam keakuratan pemberitaan. Oleh karena itu, media cetak yang selama ini dikenal sebagai media yang memproduksi berita faktual dan jernih mesti mempertahankan keunggulan tersebut.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Tags

Terkini

Gelar Rakerda, HIPMI Sumbar Bakal Bahas Ini

Minggu, 26 Juni 2022 | 09:23 WIB
X