Imbas Pandemi Covid-19, Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Bukittinggi Meningkat

- Senin, 4 Oktober 2021 | 16:06 WIB
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Ilustrasi (Foto: Pixabay)

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.COM - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi polemik di tengah masyarakat. Di Bukittinggi sendiri, walaupun sempat turun jumlah kasusnya di tahun 2019 hingga 2020, namun mengalami peningkatan di tahun 2021.

Pada semester 1 tahun 2021, sudah tercatat sebanyak 26 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Bukittinggi.

Emmalia Yuli Israwanti, S.Psi, Psikolog, Kasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Kota Bukittinggi mengungkapkan kepada Harianhaluan.com, Senin (4/10/2021), kenaikan ini bisa jadi banyaknya kasus yang terjadi, namun bisa juga terjadi karena masyarakat sudah semakin berani melaporkan kekerasan yang diterimanya.

Kasus kekerasan yang terjadi masih didominasi oleh faktor ekonomi, terutama semenjak pandemi Covid-19.

"Untuk kekerasan fisik dan psikis, masih marak terjadi di lingkungan rumah tangga. Sementara kasus kekerasan seksual rata-rata terjadi di lingkungan korban," tuturnya.

Emmalia juga menjelaskan, selain faktor ekonomi yang menjadi pemicu terjadinya kekerasan, faktor ketidak tahuan pelaku juga menjadi faktor lain penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Persepsi akan tindakan pelaku bagian dari proses mendidik, menjadi fenomena pemicu terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak di lingkungan keluarga dekat.

Proses edukasi masyarakat juga terus digencarkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana. Walaupun sempat terkendala dengan adanya Covid-19, namun proses edukasi digencarkan melalui media sosial, radio dan media. (*)

Editor: Rahma Nurjana

Tags

Terkini

Pemko Pariaman Lakukan Pengamanan Aset Daerah

Sabtu, 21 Mei 2022 | 21:48 WIB

Volume Sampah Kota Pariaman Alami Peningkatan

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:17 WIB
X