Inilah Kaitan Pihak Asing Atas Saham BBCA

- Senin, 18 Oktober 2021 | 14:32 WIB
Ilustrasi BBCA
Ilustrasi BBCA

Pada Agustus 2021, saham emiten perbankan yang dikuasai Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sempat menguat ke zona hijau pada awal perdagangan. Penguatan tersebut terjadi di tengah kabar BCA akan melakukan pemecahan nilai saham (stock split) dengan rasio 1:5. 

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BBCA menguat 0,5% ke 30 ribu rupiah per saham dengan nilai transaksi 86,49 miliar rupiah. Saham BBCA pun langsung berada di posisi ketiga saham dengan nilai transaksi tertinggi, dan volume perdagangan 2,91 juta saham.

Ketika terjadi penguatan harga saham BBCA, investor asing justru melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar 25,93 miliar rupiah. Sebab itu, saham BBCA menjadi paling banyak dilego pihak asing. Dalam satu bulan, pihak asing pun melakukan net sell 263,56 miliar rupiah di pasar reguler.

Meski menguat, saham BBCA pun terkoreksi 0,08% dalam satu minggu dan turun 1,72% dalam satu bulan. Saham emiten yang melantai di bursa sejak Mei 2020 ini pun tergelincir 11,45% secara year to date (ytd).

Pada Juli 2021, manajemen BCA pernah memublikasikan mengenai aksi stock split saham, yang berdasarkan analisis perkembangan dan dinamika ekonomi dan pasar di dalam negeri, termasuk aktivitas perdagangan di BEI. Presdir BCA pun mengungkapkan bahwa stock split rasio 1:5 ini bertujuan memberikan kesempatan kepada para investor ritel untuk berinvestasi di saham BCA.

Nilai nominal per unit saham BBCA setelah stock split pun menjadi 12,5 rupiah dari 62,5 rupiah. Dengan harga saham BBCA yang lebih terjangkau itu, para investor ritel bisa turut meramaikan bursa, terutama saham BBCA. Presdir BCA juga menyatakan bahwa aksi korporasi stock split itu sebagai bentuk dukungan untuk meningkatkan likuiditas perdagangan di pasar modal dalam negeri. 

Proses stock split akan mengikuti ketentuan berlaku dan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang digelar 23 September 2021. Setelah itu, BCA akan berkoordinasi dengan BEI untuk memproses stock split yang diperkirakan terjadi bulan Oktober 2021.

Pada penutupan perdagangan akhir Juli, tercatat bahwa saham BBCA terhenti di 29.850 rupiah per saham. Itu artinya investor harus mendanai 2,9 juta rupiah untuk membeli 1 lot (100 unit) saham BBCA. Namun, pasca stock split BBCA akan diperdagangkan seharga 5.950 rupiah per unit, dengan pembulatan ke bawah dari 5.970. Itu artinya investor hanya mendanai 597 ribu rupiah untuk 100 saham BBCA.

Karena itu, harga saham BBCA akan bisa bersaing dengan harga The Big Four. Misalnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang diperdagangkan seharga 3.710 rupiah per saham, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMR) seharga 5.700 rupiah per saham, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) seharga 4.780 rupiah per saham.

Halaman:

Editor: Hisni Munafarifana

Tags

Terkini

15 Warga Pariaman Bakal Dilatih Daur Ulang Sampah

Selasa, 18 Januari 2022 | 18:48 WIB

66 CPNS Solok Terima SK Pengangkatan PNS

Selasa, 18 Januari 2022 | 15:45 WIB

Ingat! Satpol PP Padang Garda Terdepan Penegak Perda

Selasa, 18 Januari 2022 | 15:16 WIB
X