Meningkatkan Produksi Padi dengan Teknik SRI

- Senin, 18 Oktober 2021 | 21:22 WIB
[Ilustrasi sawah] Ratusan hektare Sawah di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, puso atau tak memberikan hasil karena adanya perbaikan saluran irigasi.  (Ayobandung.com/Kavin Faza)
[Ilustrasi sawah] Ratusan hektare Sawah di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, puso atau tak memberikan hasil karena adanya perbaikan saluran irigasi. (Ayobandung.com/Kavin Faza)

Dalam penerapan SRI ada beberapa komponen penting yaitu: (1) bibit dipindah lapangan lebih awal, yakni pada saat bibit berumur 8-15 hari, (2) bibit ditanam satu bibit per lobang tanam, (3) jarak tanam yang lebar, yakni mencapai 25 cm x 25 cm bahkan lebih, (4) kondisi tanah tetap lembab tapi tidak berair, dan (5) menggunakan bahan organik sehingga akan memperbaiki struktur tanah”.

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan memberikan program Sekolah Lapang dan Demonstrasi Teknologi (Demplot) dengan tujuan agar para petani dapat menyerap informasi serta mengaplikasikannya pada usahatani yang mereka lakukan. 

Program Sekolah Lapang rutin dilakukan sejak tahun 2009 sampai tahun 2014. Dalam program tersebut dijelaskan bahwa penerapan Sistem Intensifikasi Padi dapat dilakukan pada kondisi lingkungan yang mendukung terhadap komponen yang mendukung dalam metode ini, seperti penggunaan bibit dan varietas unggul dan bermutu pemupukan yang direkomendasikan, serta manajemen budidaya yang baik mulai dari persiapan lahan hingga pasca panen agar hasilnya menjadi maksimal dan seperti yang diharapkan.  

"SRI memang waktu itu masih baru di mata petani, jadi tidak bisa kami paksakan, sesuatu yang baru harus ada buktinya dulu. Dan kini, begitu mereka melihat hasilnya, metode ini mulai dipakai oleh hampir semua petani," ujar Widowati dari Divisi Pembangunan Komunitas PT HM Sampoerna Tbk, yang mengembangkan budi daya padi SRI di Indonesia.

Banyak pelaku pertanian di Indonesia yang mengeluhkan rendahnya hasil atau tingkat produktivitas panen. Namun jarang di antara mereka yang mau melakukan evaluasi dan introspeksi lebih jauh. Kebanyakan dari mereka melakukan aktivitas pertanian dari mulai pengolahan hingga pemanenan dengan cara-cara konvensional.

Minimnya informasi mengenai cara efektif peningkatan hasil produksi pertanian, keterbatasan sumber daya, dan kurangnya tingkat intervensi positif dari pihak penyuluh pertanian juga turut berpengaruh pada kegagalan peningkatan produksi pertanian tersebut.

Dengan pengaplikasian teknik sistem intensifikasi tanaman padi dalam usahatani diharapkan dapat meningkatkan produktivitas panen. Mengingat padi merupakan komponen penting dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan beras dan jumlah penduduk Indonesia yang akan terus meningkat. 

Sehingga pengolahan lahan pertanian dengan sebaik – baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan sebaik – baiknya dengan menggunakan berbagai sarana atau yang disebut intensifikasi ini perlu dilakukan.

Kota Solok menjadi salah satu daerah di Sumatra Barat yang menyumbang kenaikan angka produksi padi pada  2020 lalu. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solok, terjadi kenaikan angka produktivitas padi di Kota Solok dari 57,57 kuintal/GKG di 2019 menjadi 60,55 kuintal/GKG di 2020.Selain itu, produksi padi Kota Solok juga meningkat dari 13.738 ton GKG di  2019 menjadi 16.461 ton GKG di tahun lalu. Salman mengatakan, “ada beberapa hal yang menjadi catatan bagi Kota Solok untuk dapat mempertahankan angka produksi ini.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Terkini

Gelar Rakerda, HIPMI Sumbar Bakal Bahas Ini

Minggu, 26 Juni 2022 | 09:23 WIB
X