Rasakan Dampak La Nina, Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Selatan Turun

Rahma Nurjana
- Jumat, 12 November 2021 | 09:57 WIB
Rasakan Dampak La Nina, Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Selatan Turun (Foto: pesisirselatankab.go.id)
Rasakan Dampak La Nina, Hasil Tangkapan Nelayan Pesisir Selatan Turun (Foto: pesisirselatankab.go.id)

PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.COM -- Nelayan di Kabupaten Pesisir Selatan, merasakan terjadinya penurunan hasil tangkap akibat dampak La Nina, sehingga memicu naiknya harga ikan segar.

Syafrizal (36) tahun, salah seorang nelayan di Kecamatan Koto XI Tarusan menyampaikan, sudah sepekan tidak bisa melaut akibat tingginya curah hujan yang disertai gelombang dan angin kencang.

"Banyak diantara nelayan di sini terpaksa harus parkir di Mentawai karena tidak bisa pulang. Bahkan sebagian lainnya memilih untuk tidak melaut," ungkapnya, dikutip dari pesisirselatankab.go.id, Jumat (12/11/2021).

Peristiwa La Nina kembali hadir di Oktober 2021. La Nina adalah peristiwa meningkatnya pertumbuhan awan hujan di Indonesia. Fenomena ini akibat interaksi lautan dan atomsfer/udara yang mempengaruhi cuaca dan iklim dunia secara global.

Menurutnya, kondisi itu secara otomatis berdampak pada hasil tangkap dan harga ikan. Untuk saat ini, jenis tongkol, misalnya dari yang biasanya hanya Rp500 per 30 Ko Kilogram naik menjadi Rp800-Rp900 per 30 Kilogram.

Begitu juga dengan ikan teri di pusat pelelangan ikan setempat, kini melonjak menjadi Rp1,5 juta per 30 Kilogram dari yang biasanya hanya Rp1 juta per 30 Kilogram. Sementara permintaan akan ikan segar terus melambung.

"Mau bagaimana lagi, ini memang faktor alam. Di satu sisi soal kebutuhan hidup. Di lain sisi menyangkut keselamatan nyawa," terangnya.

Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak lanina bakal terjadi sekitar Januari-Februari 2022. Peristiwa lanina dibagi menjadi tiga kategori antara lain kategori lemah dengan nilai kecil dari minus 0,5 - 1, moderat minus 1-2 dan kuat nilai diatas minus 2.

Sejak 2010 peristiwa lanina Moderat terjadi dua kali yaitu juni 2010 sampai dengan Februari 2011 dan September 2020 sampai dengan Januari 2021. BMKG pada 29 Oktober 2021 telah menggelar Rakornas mengajak semua pihak untuk menyiapkan rencana aksi dalam menghadapinya.

BMKG menyebutkan La Nina tidak sama setiap kejadiannya, La Nina memiliki dampak yang beragam disetiap daerah dan waktu serta puncak lanina belum tentu bersamaan dengan puncak dampak kejadiannya.

Stasiun Klimatologi Padang Pariaman memperkirakan puncak musim hujan 2021 pada bulan November ini. Hampir seluruh daerah curah hujan diperkirakan dalam kategori menengah hingga tinggi. Daerah rawan potensi banjir dengan perkiraan kategori Tinggi yaitu Pasaman Barat, Kepulauan mentawai, Agam Bagian barat, Kota Padang dan Pesisir Selatan.

Sedangkan daerah dengan potensi banjir dengan perkiraan kategori menengah di kabupaten Pasaman, Padang Pariaman, Padang Panjang, Agam, Tanah Datar, Kabupaten Solok, Sijunjung, Dharmasraya, Payakumbuh, Lima Puluh Kota dan Solok Selatan. (*)

Editor: Rahma Nurjana

Sumber: rilis

Tags

Terkini

Simpeg Solsel Berbasis Lokasi Mulai Diterapkan

Senin, 17 Januari 2022 | 14:40 WIB

Cara Merawat Budaya Nagari di Sumbar, Ini Solusinya

Senin, 17 Januari 2022 | 12:46 WIB

Hasil Perikanan Konsumsi Terbesar di Sumbar

Senin, 17 Januari 2022 | 12:34 WIB

Bocah 9 Tahun Diterkam Buaya di Lubuk Basung

Senin, 17 Januari 2022 | 11:46 WIB

Hari Ini, Sumbar Berpotensi Dilanda Hujan Ringan

Senin, 17 Januari 2022 | 09:45 WIB
X