Mental Kolonialis Asing di Tengah Melaratnya Petani Bawang Merah di Brebes

- Senin, 29 November 2021 | 19:13 WIB
Sekretaris Jenderal HKTI, Mayjen TNI (Purn) Bambang Budi Waluyo
Sekretaris Jenderal HKTI, Mayjen TNI (Purn) Bambang Budi Waluyo

HALUAN PADANG - Sekretaris Jenderal HKTI Mayjen TNI (Purn) Bambang Budi Waluyo, mengamati polemik komoditas bawang merah di beberapa wilayah khususnya di Brebes, Jawa Tengah, dalam beberapa pekan terkahir.

Dari hasil pengamatan tersebut, Sekjen HKTI menemukan kendala yang sangat fundamental yaitu persoalan pascapanen yang dihadapi petani bawang merah setempat. Harga jual bawang merah merosot turun hingga mencapai delapan ribu rupiah per kilo.

Polemik tersebut sangat membebani petani bawang, sehingga modal awal yang dikeluarkan tidak sesuai dengan pendapatan dari hasil penjualan pascapanen. Hal ini bertentangan sekali dengan prinsip Equilibrium.

Selain itu, berdasarkan hasil penelusuran langsung oleh TIM HKTI kepada pelaku petani bawang merah dengan wawancara dan ekplorasi langsung ke lapangan, dapat disimpulkan bahwa keberadaan tengkulak lah yang menjadi penyebab merosotnya harga bawang di wilayah setempat.

Tengkulak mematok harga murah delapan ribu rupiah perkilo kepada petani bawang, sehingga tidak ada pilihan lain, mau tidak mau para petani harus menjual hasil panen mereka dengan harga yang sangat murah ketimbang hasil panen menjadi tidak terserap dan bawang menjadi busuk akibat dibiarkan terlalu lama.

"Bagaimana petani tidak menjerit, untuk kembali modal saja petani harus menjual perkilonya 12 ribu hingga 15 ribu rupiah, padahal harga dipasar 20 ribu hingga 25 ribu rupiah, bahkan harga di mall mencapai 30 ribu rupiah," terangnya

Dari investigasi TIM HKTI juga ditemukan bahwa, beberapa pemilik lahan pertanian komuditas bawang merah di Brebes dimiliki oleh pemodal besar yang berasal dari Jakarta. Mereka sudah memiliki konektiVitas dengan beberapa pusat pasar induk di Jakarta dan sekitarnya.

Pemilik modal tersebut menanam bawang di lahannya dengan menggunakan buruh kerja dari masyarakat lokal setempat. Berawal dari kepemilikan lahan itulah berimplikasi kepada penekanan harga yang sangat murah.

“Orang Jakarta punya beberapa lahan disini yang saya ketahui, dia menjadi pemodal dan petani lokal menjadi buruh tani, ketika panen dia membawa bawangya untuk dipasarkan ke Jakarta dan sekitarnya serta mereka juga mematok harga yang sangat murah sehingga petani lokal lainnya tidak mampu bersaing harga, petani lainnya terpaksa harus mengikuti harga dari si pemilik lahan itu,” ucap salah seorang petani bawang merah, Arifin.

Halaman:

Editor: Muhammad Rayhan

Tags

Terkini

Main di Sungai, 2 Anak di Cirebon Tenggelam

Selasa, 5 Juli 2022 | 20:46 WIB
X