Pilot Cathay Pasific Mundur Massal, Ada Apa?

Nova Anggraini
- Sabtu, 4 Desember 2021 | 07:05 WIB
Cathay Pacific
Cathay Pacific

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Masalah tak henti menimpa maskapai Cathay Pasific. Baru-baru ini, maskapai yang berbasis di Hong Kong itu dilanda gelombang mundur para pilotnya sebagai ungkapan kekecewaan atas kebijakan karantina ketat yang diberlakukan di kawasan itu.

Hong Kong saat ini mengikuti arahan Beijing yang menutup perbatasannya untuk menekan penyebaran Covid-19. Langkah itu bisa menanggulangi kasus positif Covid-19, tetapi membuat kota itu terisolasi secara internasional.

Dilansir AFP, Jumat (3/12/2021), pimpinan Hong Kong menyatakan bahwa menormalisasi perjalanan dengan China daratan harus diutamakan sebelum membuka perbatasannya untuk negara lain. Strategi itu memicu alarm berbunyi di dalam hub keuangan multinasional yang menyebut dirinya sebagai Kota Dunia di Asia.

Imbasnya, banyak sektor terdampak langsung, termasuk para pilot. Empat pilot yang minta namanya disamarkan mengatakan bahwa puluhan rekan mereka telah mengundurkan diri dalam beberapa pekan terakhir. Mereka lalu melamar posisi yang sama di maskapai rival perusahaan itu yang lebih fleksibel dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Segala hal memburuk, mengundurkan diri adalah jalan akhir yang ditempuh," kata seorang pilot yang berpengalaman terbang selama 20 tahun dan sudah melamar ke dua maskapai berbeda. "Ada banyak orang yang sudah berada di titik jenuhnya. Sangat mengejutkan bahwa kami tidak mengalami kecelakaan apapun."

Sepanjang pandemi berlangsung, Hong Kong memperketat aturan perjalanan untuk memasuki kawasannya. Mereka banyak mewajibkan pelancong dari luar negeri menjalani karantina selama tiga minggu.

Meski pilot mendapat beberapa pengecualian, mereka tetap menghabiskan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu bolak-balik dalam gelembung pesawat ke hotel untuk menghindari kewajiban karantina ketat saat kembali ke Hong Kong. Yang paling ekstrem adalah penerbangan dengan loop tertutup, yakni kru menghabiskan waktu sekitar lima minggu dalam gelembung dan diikuti karantina dua minggu di rumah.

Ketatnya aturan karantina itu, kata seorang pilot kepada AFP, berdampak pada kesehatan mental kru dan keluarganya. Kemarahan yang dipendam selama pandemi akhirnya meledak pada bulan lalu ketika lebih dari 270 orang, yang 120 awak ditambah keluarga mereka, diperintahkan masuk ke kamp karantina pemerintah usai tiga pilot dinyatakan positif sekembalinya dari Jerman.

Ketiga pilot yang disebut sebagai penyebab kasus tersebut meninggalkan kamar hotel mereka saat singgah di Jerman. Mereka kemudian dipecat oleh Cathay Pasific.

Beban Mental

Halaman:

Editor: Nova Anggraini

Sumber: Liputan6.com

Tags

Terkini

Meresahkan, 8 "Pak Ogah" Diamankan Satpol PP Padang

Senin, 24 Januari 2022 | 21:15 WIB

Pemko Pariaman Cek Kelayakan Kendaraan Dinas

Senin, 24 Januari 2022 | 17:47 WIB
X