Deretan Kota Paling Mengecewakan di Dunia Menurut Warganet, Ada dari Indonesia

Nova Anggraini
- Kamis, 9 Desember 2021 | 07:40 WIB

Sementara sebagian besar pengguna setuju dengan sudut pandang ini, itu juga memicu percakapan menarik seputar apa yang menyebabkan pemisahan taman nasional di AS. "Urbanisasi Air Terjun Niagara benar-benar mengilhami para konservasionis untuk melobi sistem taman nasional," tulis yang lain.

Dubai adalah kota lain yang mendapat kecaman karena apa yang dianggap pengguna sebagai kedangkalan tertinggi. "Memutuskan untuk menghabiskan 10 hari di sana, tapi ternyata 24 jam saja sudah cukup. Terlalu banyak mal, tidak ada budaya," kata seorang pengguna.

Seorang pengguna lain menyoroti bagaimana Dubai dibangun di atas tenaga kerja yang diimpor dari negara tetangga. "Negara itu dibangun di atas darah dan jiwa buruh murah dari Pakistan, India, Sri Lanka, dan Bangladesh," tulisnya.

Yang lain juga merasa bahwa Bali, yang dulunya surga pantai indah, kini jadi pusat wisata berbasis Instagram tanpa jiwa.

"Bali banyak berubah dalam 10 tahun terakhir. Dulu sangat indah dan menakjubkan… sekarang penuh dengan 'pengembara digital' dan makanan yang terlalu mahal," kata seorang pengguna. "Saya ingat ketika itu (Bali) jadi tempat selancar yang keren dengan makanan murah."

Banyak pengguna juga memilih Beijing, yang mereka rasa bukan hanya tujuan overhyped, tapi juga "tempat rasisme merajalela." "Terintimidasi oleh tingkat keamanan bersenjata di mana-mana, harus melawan begitu banyak penipu, tidak suka disentuh dan ditertawakan ketika di kereta bawah tanah (saya orang Eropa yang sangat putih dengan rambut keriting). Secara keseluruhan, ini sangat menantang meski ada beberapa pemandangan yang menakjubkan," tulis seorang pengguna.

Dari Rasisme sampai Tingkat Keamanan

Rasisme tampaknya jadi tema berulang, muncul sebagai salah satu faktor utama yang membuat pengalaman bepergian di luar negeri tidak tertahankan. "Setiap kali saya pergi ke Paris, saya belajar bagaimana mengatakan, 'Maaf saya tidak bisa berbahasa Prancis, saya orang Amerika yang bodoh' dalam bahasa Prancis. Orang Paris menyukainya," kata seorang pengguna.

Tapi, bukan hanya rasisme yang membuat banyak pengalaman perjalanan terasa aneh dan tidak aman. Dalam beberapa kasus, pengguna benar-benar terbuka tentang menghadapi bahaya di jalan-jalan kota baru.

"Ditembak 5 menit setelah tiba di Rio," ungkap seorang warganet.

Pengguna lain menyebut Myrtle Beach, sebuah kota di Carolina Selatan, AS, memiliki banyak "sabu dan pembunuhan," selain hanya benar-benar murahan tanpa alasan. Ia juga merasa bahwa menemukan kota yang ditimpa kemelaratan jadi pengalaman terburuk.

Halaman:

Editor: Nova Anggraini

Sumber: Liputan6.com

Terkini

X