Sangkak Balam, Tradisi Minangkabau yang Dimakan Zaman

- Sabtu, 25 Desember 2021 | 16:54 WIB
Anissa, gadis muda asal Kampuang Pisang, Kabupaten Agam, sedang menempah Sangkak Balam
Anissa, gadis muda asal Kampuang Pisang, Kabupaten Agam, sedang menempah Sangkak Balam

AGAM, HARIANHALUAN.COM - Tradisi ukiran dan anyaman Minangkabau tidak hanya ditemukan di Rumah Gadang (Rumah Adat Minangkabau). Namun banyak hasil tangan lain yang memiliki ciri khas ukiran Minangkabau. Salah satunya, Sangkak Balam (Sangkar Tekukur).

Sangkak Balam, dahulunya adalah tradisi ukiran yang populer di Ranah Minang. Dalam penuturan tetua di Minangkabau, zaman dahulu, jika ada Sangkak Balam yang dipajang di teras rumah, itu menandakan ada anak bujang yang tinggal di rumah itu.

Kini, tidak banyak lagi bujang-bujang Minangkabau yang memelihara Burung Balam. Tradisi memelihara Balam hanya diminati generasi 60-70an.

Tetapi, penempah Sangkak Balam masih dapat ditemui di daerah pedesaan Minangkabau. Salah satunya Sutan Jamaris (58), penempah Sangkak Balam di Jorong Kampuang Pisang, Nagari Koto Panjang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Baca Juga: Tidak Ada Hutang BLBI, Persoalan Bank Intan Sudah Selesai Secara Hukum

Kepada Harianhaluan.com, Sabtu (25/12/2021), ia menuturkan, menempah Sangkak Balam telah ditekuni semenjak 1970an silam. Pada masanya, Sangkak Balam adalah hobi yang diminati pemuda Minangkabau.

Sangkak Balam biasa dikerjakan bujang-bujang Minangkabau untuk mengisi waktu luang selepas mengerjakan aktivitas sehari-hari.

Namun, setelah pergeseran zaman, Sutan Jamaris mengatakan, sudah tidak banyak kini yang pandai mengerjakan Sangkak Balam.

Para penghobi balam yang sudah berumur, sudah membeli jadi dari penempah-penempah Sangkak Balam.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Tags

Terkini

BPKB Dishub Kota Pariaman Terapkan Pembayaran Online

Jumat, 12 Agustus 2022 | 21:13 WIB
X