Survei CPCS: Elektabilitas Puan Maharani Paling Unggul di Bursa Cawapres

- Sabtu, 30 April 2022 | 06:05 WIB
Legitimasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual jadi produk hukum paling akhir yang ditetapkan DPR RI saat sebelum Ketua DPR RI Puan Maharani tutup Periode Persidangan IV Tahun Sidang 2021-2022 pada 14 April 2022. (Tangkapan dari Courtesy Media DPR RI)
Legitimasi Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual jadi produk hukum paling akhir yang ditetapkan DPR RI saat sebelum Ketua DPR RI Puan Maharani tutup Periode Persidangan IV Tahun Sidang 2021-2022 pada 14 April 2022. (Tangkapan dari Courtesy Media DPR RI)

HARIAN HALUAN - Sebuah hasil survei dari Center for Political Communication Studies (CPCS) menunjukkan Ketua DPR RI Puan Maharani unggul dalam bursa calon wakil presiden (cawapres). Tercatat, mencapai hingga 26,2 persen.

"Puan berada pada posisi teratas dalam bursa cawapres, sedangkan Khofifah muncul sebagai cawapres terkuat dari kalangan NU," kata Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta, seperti dikutip Harian Haluan dari Antara, Sabtu (30/4/2022).

Adapun setelah Puan Maharani di bursa cawapres, yakni nama Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencapai 15,4 persen dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang mendapat 10,4 persen.

Baca Juga: Lingkar Madani Apresiasi Sikap Autokritik Puan Maharani Untuk Kinerja Legislasi DPR

Tri Okta mengatakan bahwa tingginya elektabilitas Puan Maharani dalam bursa cawapres menjadikannya berpeluang kuat jika dipasangkan dengan salah satu capres, seperti Menteri Pertahanan Prabowo Subianto atau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Menurutnya, Puan Maharani mewakili kalangan nasionalis, sementara Khofifah merepresentasikan kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) yang selama ini menjadi faktor penting dalam politik dan pemilihan umum di Indonesia.

"Dalam beberapa kali pemilu, capres menggandeng tokoh NU sebagai cawapres," tambahnya.

Tri Okta menyebutkan dalam Pilpres 2004, Megawati Soekarnoputri menggandeng Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi, sedangkan di Pilpres 2019, Joko Widodo membawa Ma’ruf Amin yang saat itu sebagai Rais Aam Syuriah PBNU dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Menurutnya, Khofifah memiliki rekam jejak di pemerintahan dengan menjabat sebagai menteri pada era Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Presiden Jokowi di periode 2014-2019. Dia menambahkan tokoh potensial lainnya adalah Menteri BUMN Erick Thohir dan Panglima TNI Andika Perkasa.

Halaman:

Editor: Adhi Widharta

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Akademisi Puji Politik Kerja Andre Rosiade

Senin, 4 Juli 2022 | 17:54 WIB

Bank Nagari Jalin Kerja Sama dengan BKMT Sumbar

Senin, 4 Juli 2022 | 17:13 WIB

Pemerintah Indonesia Raih Blue Park Awards

Sabtu, 2 Juli 2022 | 17:37 WIB
X