Jaga Daya Beli Masyarakat, Pertumbuhan Ekonomi 2022 Cukup Baik Sebesar 5,44 Persen

- Sabtu, 6 Agustus 2022 | 10:41 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Telah Diumumkan BPS, Indef Nailul Huda: Konsumsi Masyarakat Naik Cukup Tinggi. (Foto: Megan_Rexazin/pixabay)
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Telah Diumumkan BPS, Indef Nailul Huda: Konsumsi Masyarakat Naik Cukup Tinggi. (Foto: Megan_Rexazin/pixabay)

HARIAN HALUAN - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2022 sebesar 5,44% secara tahunan (year on year/yoy).

Pertumbuhan ini diperkirakan masih akan berlanjut di kuartal III dan IV sehingga Indonesia bisa mencapai target pertumbuhan 5,2% di 2022. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengungkap pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di kuartal II tersebut lebih disebabkan oleh konsumsi masyarakat. Pada kuartal II, ada beberapa momen yang memicu naiknya konsumsi masyarakat.

Baca Juga: Perekonomian Indonesia Ditopang Domestik, Probabilitas Resesi Hanya 2 Persen

"Kalau kita lihat sebenarnya yang naik cukup tinggi adalah konsumsi masyarakat. Ini naik sekitar 5,51 persen. Jadi yang kuartal dua ini sangat tertolong dengan konsumsi masyarakat. Ada momen Ramadan, Idulfitri, serta persiapan ajaran baru. Makanya kalau kita lihat pertumbuhan konsumsi masyarakat itu naik tajam sekali," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, konsumsi masyarakat menyumbang 50% dalam PDB. Hal itu menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,44% pada kuartal II. Meski demikian, Huda memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III tidak akan seimpresif kuartal II. Hal itu disebabkan tidak ada momen yang mendorong konsumsi masyarakat.

"Kuartal III tidak ada momen untuk tumbuh lebih cepat. Jadi kita akan menyaksikan pertumbuhan ekonomi akan melambat di Kuartal III," terusnya.

Baca Juga: Ingin Ikut Napak Tilas Bung Hatta? Ini Caranya

Pada kuartal IV, pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan lagi. Dengan catatan, inflasi bisa ditekan serendah mungkin. Menurutnya, kenaikan harga komoditas dalam negeri akan memicu inflasi karena menekan daya beli masyarakat.

"Bahkan kalau inflasi terlalu tinggi, pertumbuhan ekonomi bisa di bawah 5%," tandasnya.

Halaman:

Editor: Jefrimon

Tags

Terkini

X