Ferdian Agustiana: Keberlanjutan Bisnis pada Ekosistem Pariwisata dan Kebandarudaraan

- Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:36 WIB
Ferdian Agustiana
Ferdian Agustiana

Harian Haluan - Keberadaan bandar udara (bandara) sebagai salah satu fasilitas infrastruktur tidak hanya untuk memberi pelayanan bagi para pengguna jasa angkutan udara semata, melainkan juga menopang sektor usaha lainnya termasuk pariwisata.

Kebutuhan akan moda angkutan dan mobilitas yang tinggi berdampak pada percepatan roda perekonomian, baik untuk daerah setempat ataupun negara. Seperti yang kita ketahui bahwa sektor pariwisata dan kebandarudaraan adalah dua entitas yang saling berikaitan satu sama lainnya, serta tidak bisa pisahkan.

Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah wistawan yang masuk melalui pintu utama kedatangan Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2022 kunjungan wisatawan mancanegara ke tanah air melalui pintu masuk utama mencapai 40.790 wisatawan atau naik 206,25% (yoy). Kunjungan dengan moda udara mendominasi yakni sekitar 39.060 wisatawan.

Baca Juga: 2023 jadi Tahun Pariwisata, Pemkab Agam Kembangkan Potensi Nasi Kapau dan Aneka Kuliner Lainnya

Sementara itu, secara kuartalan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara dari Januari-Maret 2022 mencapai sekitar 74.380 kunjungan, atau naik 228,24% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Mayoritas kunjungan wisatawan mancanegara menggunakan moda udara sekitar 71.450 orang.

Kondisi tersebut diharapkan merupakan awal dari kebangkitan industri penerbangan dan pariwisata di Indonesia, yang sebelumnya sangat terdampak oleh pandemi Covid-19. Secara global di sektor penerbangan, pandemi telah menyebabkan penurunan penerbangan komersial -43% s.d -48% (ICAO, 2020).

Pergerakan lalu lintas udara di dunia semakin menunjukkan bahwa industri penerbangan sangat rentan terhadap pengaruh eksternal. Meskipun ada kecenderungan untuk fokus pada pola pertumbuhan dari tahun ke tahun, analisis dampak pada peristiwa utama memberikan gambaran yang cukup jelas.

Selama dua dekade terakhir, industri transportasi udara telah menghadapi tantangan yang besar. Pada era tahun 1990-an, industri transportasi udara mengalami stagnasi dan industri kargo mengalami kerugian yang sangat besar. Perlambatan ekonomi dunia pada awal 2000-an dan tragedi serangan 9/11 pada tahun 2001 membuat perubahan struktural dalam industri.

Penurunan permintaan transportasi udara yang signifikan dikorelasikan dengan peningkatan biaya keamanan dan asuransi untuk bandara dan maskapai. Kondisi global yang memengaruhi industri penerbangan, seperti tragedi 11 September 2001, perang Irak, dan epidemi Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), diikuti oleh penurunan ekonomi siklus di awal 2000-an.

Halaman:

Editor: Adhi Widharta

Artikel Terkait

Terkini

Pemko Pariaman Kebut Smart City dengan Gelar Bimtek

Rabu, 28 September 2022 | 20:26 WIB

Teken MoU, Pemko Pariaman Jalin PKS dengan Unand

Rabu, 28 September 2022 | 20:03 WIB
X