Ferdian Agustiana: Keberlanjutan Bisnis pada Ekosistem Pariwisata dan Kebandarudaraan

- Jumat, 12 Agustus 2022 | 13:36 WIB
Ferdian Agustiana
Ferdian Agustiana

Dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh seluruh dunia dan mengakibatkan penghentian penerbangan komersial. Ketika itu terhenti, tentu industri pendukung seperti ground handling, tenan-tenan di bandara, tour & travel, dan industri pariwisata pun mengalami keterpurukan yang sangat dalam.

Penurunan tersebut mengindikasikan bahwa industri penerbangan dan pariwisata tidak hanya rentan terhadap fenomena ekonomi, namun juga dengan berbagai situasi terkait lingkungan, serta geopolitik.

Melihat kondisi global tersebut, penataan sistem transportasi udara dan sektor pariwisata yang handal, terpadu, dan terarah, memerlukan perencanaan dan pengembangan, sehingga perlu didukung oleh sumber daya yang mumpuni dan informasi data yang akurat.

Dalam industri kebandarudaraan, manajemen dituntut untuk memiliki suatu pengelolaan bandar udara yang aman, efisien, efektif, dan handal untuk menjamin kelancaran kegiatan operasional dan bisnis yang berlangsung di bandar udara tersebut. Sementara itu, stakeholder memiliki peranan penting dalam menunjang fungsi bandar udara untuk mengakomodasi pergerakan lalu lintas udara (penumpang dan pesawat), meningkatkan kualitas layanan, serta mengembangkan kegiatan bisnis dan potensi pendapatan di bandar udara.

Laporan Global Infrastructure Hub menyebutkan bahwa tren transformasi bandara dari masa ke masa mulai bergerak ke arah konsep bandara cerdas (smart airport). Konsep digitalisasi bandara merupakan tren yang tidak dapat dipungkiri, terlebih pada konsep “New Normal” pasca pandemi. Konsep tersebut menuntut Manajemen Bandar Udara serta stakeholder terkait menerapkan protokol yang sangat ketat dengan melakukan tambahan beberapa pemeriksaan.

Hal tersebut tentu harus didorong dengan konsep digitalisasi yang terintegrasi (Smart Connected Airport) dengan para stakeholder terkait, sehingga akan meminimalisir kontak langsung antara manusia (penumpang dengan petugas). Berkaitan dengan layanan yang diberikan oleh bandara kepada pelanggan tercermin dari capaian global rating dan, benchmarking produktivitas, serta efisiensi bandara.

Maka penting bagi bandara untuk memiliki keberlanjutan pada performansinya. Perusahaan di industri penerbangan, kebandarudaraan, dan pariwisata dapat meningkatkan kinerja berkelanjutan (sustainability performance) yaitu dengan mengidentifikasi, mengelola dan mengukur pemicu/pendorong keberlanjutan yang lebih baik, serta sistem dan struktur yang dapat diciptakan untuk meningkatkan kinerja pengukuran.

Pada sektor industri penerbangan, pengambilan keputusan kolaboratif adalah konsep yang bertujuan untuk meningkatkan aliran lalu lintas udara dan manajemen kapasitas di bandara dengan mengurangi keterlambatan, meningkatkan prediktabilitas, dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya. Menurut dokumen Civil Air Navigation Services Organization (CANSO) penerapan keputusan kolaboratif bandara akan berdampak pada efisiensi operasi stakeholder terkait dibandara dan memungkinkan untuk mengoptimalkan keputusan mereka dalam bekerja sama antar stakeholder dan pengelola bandar udara, mengetahui preferensi dan kendala serta situasi aktual dan prediksi (CANSO, 2016).

Pengelolaan bandara bukanlah sebuah pengelolaan sederhana, karena banyak lembaga atau pihak yang terkait dalam pengelolaannya, berkaitan dengan urusan teknis, jadwal penerbangan, hingga otorisasi. Sehingga bandara perlu melakukan kolaborasi dengan pihak terkait dengan peningkatan kinerja dan perbandingan di seluruh fungsi yang terkait dengan ekonomi dan sumber daya.

 

Riset indeks aset dan potensi di dunia

Halaman:

Editor: Adhi Widharta

Artikel Terkait

Terkini

X