Benarkah? Hasil Uji di Lab Menyebut Ekstrak Natto Mampu Hadang Infeksi Virus Covid-19

- Selasa, 27 Juli 2021 | 07:50 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi


HARIANHALUAN.COM - Sebuah studi biokimia dan biofisika di Jepang langsung mendapat perhatian luas dari masyarakat setempat karena menunjukkan kalau ekstrak dari natto, menu makanan tradisional dari kedelai yang difermentasi, dapat mencegah infeksi virus corona Covid-19. Tapi, tunggu dulu, studi ini mirip dengan khasiat obat antiparasit cacing ivermectin yang baru terbukti dalam uji di laboratorium.

Baca Juga: Hingga Akhir Juni 2021, Kinerja Keuangan Bank Nagari Membaik dari Tahun Lalu

Studi masih sebatas mengunakan sel-sel dari ternak maupun manusia yang diuji dalam cawan petri. Harus diingat, ada banyak sekali percobaan yang mungkin memberi hasil baik di laboratorium tapi tidak ketika dicoba langsung pada manusia.

Studi yang hasil lengkapnya akan dipublikasikan September mendatang itu dilakukan tim peneliti dari Pusat Riset Pencegahan dan Epidemiologi Penyakit Menular, Universitas Pertanian dan Teknologi Tokyo, Universitas Miyazaki, dan Institut Teknologi Nasional di Jepang.

Mereka menggunakan esktrak natto yang didapat dengan memfermentasi makanan itu dengan bantuan bakteri Bacillus subtilis. Bahan ekstrak itu kemudian diinjeksikan ke sel-sel hewan ternak dan manusia di laboratorium.

Ketika ekstrak tidak dipanaskan yang digunakan, virus corona SARS-CoV-2 maupun herpesvirus 1 (BHV-1, virus pada ternak sapi) kesulitan menginfeksi sel. Ketika natto dipanaskan dulu pada suhu 100 derajat Celsius selama 10 menit, infeksi virus tak ada yang terpengaruh.

Tim penelitinya menduga kalau ekstrak natto, termasuk enzim yang disebut protease, menghancurkan protein kunci di permukaan virus yang biasa berperan menginfeksi sel. Memanaskan esktrak natto akan merusak dan membuat enzim protease tak aktif.

Bagian kedua dari studi lalu mengkonfirmasi hipotesis itu. Tim peneliti menggunakan protease inhibitor pada ekstrak natto dan terbukti ekstrak menjadi tak mampu membendung infeksi virus-virus itu.

Pada bagian ketiga dari studinya, para peneliti menguji tanding langsung ekstrak natto dengan virus-virus itu lalu mengecek apa yang terjadi degan protein paku milik SARS-CoV-2. Hasilnya, protein paku virus penyebab sindrom pernapasan akut itu tampak rusak.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: Tempo.co

Terkini

Terpopuler

X