HARIANHALUAN.COM - Salah seorang pangeran Arab Saudi, Saud al-Shaalan, mengancam Barat dengan "proyek jihad dan mati syahid" di tengah ketegangan yang memburuk atas keputusan OPEC+ memangkas produksi minyak.
Pangeran Saud adalah sepupu Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Dalam sebuah video yang sudah menyebar di media sosial, cucu almarhum Raja Abdulaziz itu mengeluarkan ancaman kekerasan terhadap Barat.
"Siapa pun yang menantang keberadaan kerajaan ini, kita semua adalah proyek jihad dan syahid," ancam Pangeran Saud dalam bahasa Inggris dan Prancis.
Baca Juga: Raja Salman Angkat Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai PM Arab Saudi
Menurut advokat hak asasi manusia (HAM) Arab Saudi, Abdullah Alaoudh, Pangeran Saud al-Shaalan juga merupakan pemimpin suku di kerajaan tersebut.
Intervensi Pangeran Saud datang ketika hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Arab Saudi telah mencapai titik nadir. Dengan kenaikan harga energi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari, Washington telah melobi anggota kartel minyak OPEC+, khususnya Arab Saudi, untuk meningkatkan produksi minyak.
Presiden AS Joe Biden telah melakukan perjalanan ke Kerajaan Arab Saudi pada bulan Juli lalu sebagai bagian dari lobi Amerika.
Padahal, sebelumnya Biden berjanji untuk mengubah Arab Saudi menjadi "paria" setelah pembunuhan jurnalis pembangkang Arab Saudi Jamal Khashoggi pada 2018. Biden saat itu mengatakan pemerintahannya memberi tahu media bahwa mereka yakin Arab Saudi akan meningkatkan produksi minyak.
Alih-alih tunduk, Arab Saudi justru memimpin OPEC+ memangkas produksi minyak sebesar dua juta barel per hari mulai November bulan depan.
Keputusan itu dapat menaikkan harga bahan bakar minyak secara global, termasuk di AS yang pada bulan tersebut bersiap untuk pemilu.
Washington telah bereaksi dengan marah, menuduh Arab Saudi membantu Rusia untuk meringankan tekanan sanksi yang dijatuhkan pada Moskow atas perang Ukraina.
Gedung Putih mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka ingin bekerja dengan Kongres untuk mengevaluasi ulang hubungan Washington dengan Riyadh.
Para anggota Parlemen telah menawarkan sejumlah langkah, termasuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi dan membuka OPEC untuk litigasi di AS.
"Dalam beberapa pekan terakhir, Saudi menyampaikan kepada kami—secara pribadi dan publik—niat mereka untuk mengurangi produksi minyak, yang mereka tahu akan meningkatkan pendapatan Rusia dan menumpulkan efektivitas sanksi," kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby.
Dia menambahkan bahwa anggota OPEC lainnya mengatakan kepada AS secara pribadi bahwa mereka tidak setuju dengan keputusan Riyadh, tetapi merasa dipaksa untuk mendukung arahan Saudi.