Pemerintah Diyakini Mampu Meredam Efek Negatif Kenaikan Suku Bunga

- Jumat, 18 November 2022 | 22:37 WIB
Ilustrasi Ekonomi (Ghina Atika)
Ilustrasi Ekonomi (Ghina Atika)

HARIANHALUAN.COM - Ekonom INDEF Agus Herta Sumarto mengatakan, kenaikan Suku Bunga Acuan Bank Indonesia (BI7DRR) menjadi 5,25% akan menimbulkan dampak negatif, namun bisa diredam oleh pemerintah. 

“Dampak negatif yang paling dirasakan adalah kenaikan suku bunga kredit perbankan dan lembaga keuangan. Kenaikan suku bunga kredit ini akan sangat dirasakan oleh para pelaku industri karena biaya modal menjadi meningkat. Padahal selama ini mereka sudah terbebani oleh kenaikan harga input produksi & energi,“ jelas Agus saat berbincang, Jumat 18 November 2022.

Oleh karena itu, pemerintah harus membuat kebijakan shock absorber yang dapat meredam efek negatif kenaikan BI7DRR dari dua sisi sekaligus, supply dan demand. 

Baca Juga: Ini Sebabnya Sebelas Koperasi di Kota Pariaman Segera Dibubarkan

“Dari sisi supply, pemerintah bersama Bank Indonesia dapat memberikan relaksasi terhadap berbagai pungutan yang selama ini menjadi beban biaya yang harus ditanggung para pelaku industri,” ungkap Agus. 

Kemudian dia menambahkan, pemerintah melalui kebijakan fiskalnya dapat secara temporer memberikan relaksasi pajak dengan memberikan beberapa kebijakan tax holiday dan memberikan subsidi suku bunga khusus untuk sektor-sektor padat karya sehingga bisa mengurangi beban biaya modal yang meningkat akibat kenaikan BI7DRR. 

Dengan adanya insentif dari pemerintah, maka memangkas biaya modal, sehingga diharapkan tidak perlu lagi efisiensi dari sumber daya manusia, alias melakukan PHK. 

Baca Juga: Indonesia-RRT Teken MoU di Sektor Ekonomi Digital

Kemudian dari sisi demand, pemerintah diminta terus menggelontorkan program jaring pengaman sosial untuk menjaga daya beli masyarakat. Misalnya Bansos, BSU dan BLT. 

Halaman:

Editor: Jefrimon

Tags

Terkini

Yuk Intip Makna Dibalik Logo ASEAN Indonesia 2023

Sabtu, 4 Februari 2023 | 08:52 WIB
X