FIFA Melunak, Kini Izinkan Atribut Pelangi Masuk Stadion di Piala Dunia 2022

- Jumat, 25 November 2022 | 07:17 WIB
 Larangan penggunaan atribut pelangi di Piala Dunia 2022 Foto: Akun Twitter @FIFAWorldCup
Larangan penggunaan atribut pelangi di Piala Dunia 2022 Foto: Akun Twitter @FIFAWorldCup

HARIANHALUAN.COM - Atribut pelangi yang jadi simbol LGBT menjadi sorotan dalam perhelatan Piala Dunia FIFA 2022 di Qatar. FIFA melarang atribut pelangi masuk ke stadion. Hal tersebut demi menghormati aturan di negara tuan rumah Qatar.

Kini, seperti yang dilaporkan The Independent, FIFA mulai melunak dan mengizinkan atribut pelangi masuk stadion.

"FIFA tidak akan melarang lagi bendera pelangi di stadion untuk pertandingan Piala Dunia putaran berikutnya, dan Qatar kini telah memberikan jaminan kepada badan pengatur tentang masalah tersebut setelah serangkaian insiden yang memuncak terkait kapten dari tujuh federasi UEFA tidak mengenakan ban kapten One Love," bunyi laporan tersebut, Kamis, 24 November 2022.

Baca Juga: Buntut Larangan Ban Lengan Pelangi di Piala Dunia 2022, Denmark Ajak Inggris Tinggalkan FIFA

Pada pertandingan-pertandingan selanjutnya, barang suporter yang bernuansa atribut pelangi tidak akan disita lagi. Kontroversi pelarang atribut pelangi ini ramai jadi perbincangan.

Beberapa negara Eropa yang berpartisipasi di Piala Dunia pun sempat menentang keputusan tersebut, salah satunya Jerman.

Di laga kontra Jepang, Rabu, 23 November 2022 kemarin, para pemain Timnas Jerman kompak menampilkan gestur menutup mulut saat sesi pemotretan sebelum laga dimulai.

Reuters memberitakan, aksi tersebut berhubungan dengan ancaman sanksi FIFA jika kapten tim memakai ban kapten “One Love” yang beraksen pelangi.

Di pertandingan itu pula Menteri Dalam Negeri Jerman, Nancy Faeser, duduk di sebelah Presiden FIFA Gianni Infantino di tribun. Nancy mengenakan ban kapten “One Love“ beraksen pelangi saat dirinya berbincang dengan Infantino.

Sebelumnya, Nancy mengkritik FIFA dengan mengatakan ancaman sanksi adalah sebuah kesalahan dan perilaku yang tidak dapat diterima.

Halaman:

Editor: Nova Anggraini

Sumber: Independent.co.uk

Tags

Terkini

X