Sosok Guru Perempuan Indonesia, Kini Namanya Menjadi Jalan di Jakarta

- Jumat, 25 November 2022 | 11:44 WIB
Dewi Sartika Pejuang dan Perintis Sekolah Khusus Perempuan Tag: Dewi Sartika Pejuang Kemerdekaan Sejarah 1945
Dewi Sartika Pejuang dan Perintis Sekolah Khusus Perempuan Tag: Dewi Sartika Pejuang Kemerdekaan Sejarah 1945
HARIANHALUAN.COM - Perjuangan guru yang tidak senantiasa putus terus dikenang dan dirayakan. Sebagai pengingat dan ucapan terima kasih, tanggal 25 November dikhususkan menjadi Hari Guru
 
Meski Hari Guru baru diresmikan pada 25 November 1945, perjuangan insan tenaga pengajar tentu sudah berlangsung jauh sebelumnya. 
 
Berdekatan dengan tempat diresmikan Hari Guru uru yang dilakukan oleh PGRI di Surakarta, Yogyakarta juga menyimpan kenangan dan perjuangannya sendiri. 
 
Bukan hanya terkenal karena Taman Siswa dan Ki Hajar Dewantara, Yogyakarta juga menjadi tempat lahir Raden Dewi Sartika, perintis sekolah khusus perempuan di tanah Jawa. 
 
Lahir 4 Desember 1884 di Cicalengka, Jawa Barat, Dewi Sartika lahir dan tumbuh besar di sana.
 
Terkenal sebagai murid cerdas, ia pun diingat gemar bermain "sekolah-sekolahan" dengan beberapa anak pelayan di lingkungan keluarganya.
 
Kegemaran masa kecil ini masih melekat pada diri Dewi Sartika yang saat itu harus pindah ke Bandung sepeninggal ayahnya.
 
Ketika itu, Dewi Sartika yang usianya sudah belasan tahun, mengutarakan cita-citanya untuk mendirikan sekolah khusus anak gadis. 
 
Beberapa orang yang mendengar, termasuk ibunya, tidak menolak, tapi juga tidak mendukung penuh keinginan Dewi Sartika
 
Hanya sang kakek, R.A.A Martanegara yang saat itu menjabat sebagai bupati Bandung, yang mendorong Dewi Sartika untuk mencapai impiannya. 
 
Atas dorongan kakek dan Den Hamer, Inspektur Kantor Pengajaran, pada 16 Januari 1904 resmi dibuka "Sekolah Isteri". 
 
Cita-cita Dewi Sartika terwujud meski keadaan sekolahnya masih jauh dari sempurna. Ruang belajar pun masih menumpang salah satu ruangan di kantor kabupaten. 
 
Dibantu Purwo dan Uwit, sekolah itu mengajarkan beberapa mata pelajaran mendasar, seperti, berhitung, baca, tulis, dan agama. 
 
Perlahan-lahan, sekolah Dewi Sartika mendapat perhatian masyarakat dan pejabat negara. Jumlah muridnya pun semakin bertambah. 
 
Ketika berusia 22 tahun, Dewi Sartika bertemu dan menikah Raden Kanduran Agah Suriawinata. Ia merupakan guru sekolah Karangpamulangan. 
 
Dan, semenjak itu, tepatnya tahun 1908, pasangan suami istri guru ini berjuang bersama-sama untuk memajukan pendidikan, terutama untuk kaum perempuan. 
 
Pada tahun 1910, "Sekolah Isteri" berganti nama menjadi "Sekolah Keutamaan Isteri". Mata pelajaran pun mendapat tambahan seperti, memasak, mencuci, dan membatik. 
 
Penambahan ini berarti biaya sekolah ikut meningkat dan hal ini membuat Dewi Sartika serta suami menjadi prihatin. Untungnya, pemerintah saat itu memberikan subsidi kepada sekolahnya. 
 
Memasuki tahun 1911, "Sekolah Keutamaan Isteri" diperluas dan dibagi menjadi dua sesi pengajaran. 
 
Sesi pertama menggunakan Bahasa Sunda. Bahasa Belanda dan Melayu menjadi bahasa pengantar di sesi kedua. 
 
Hal ini menarik perhatian orang-orang sekitar Jawa Barat dan juga Gubernur Jenderal hindia belanda. 
 
Keberlangsungan sekolah Dewi Sartika sempat terbentur Perang Dunia 1 karena mahalnya harga semua keperluan. Tapi, Dewi dan suaminya teguh hingga berhasil menghadapi situasi. 
 
Pada 11 juli 1939 perayaan tahun ke-35 pendirian sekolahnya diadakan besar-besaran. Banyak pejabat dan tokoh terkenal hadir memberi selamat kepada Raden Dewi.
 
Namun, berita duka datang tidak lama kemudian. Raden Agah meninggal pada 25 Juli 1939. Meski bersedih, Dewi Sartika tetap melanjutkan perjuangannya. 
 
Beberapa kali Dewi Sartika mendapatkan penghargaan dari pemerintah untuk jasanya. Namun, situasi genting karena agresi Belanda di tahun 1947 memaksa Dewi Sartika harus mengungsi. 
 
Keadaan sulit dan perjalanan jauh membuat kesehatannya menurun. Lalu, pada 11 September 1947, Dewi Sartika meninggal dunia di Cinean, tempat ia mengungsi. 
 
Sekolah yang didirikannya sempat dipinjam oleh pemerintah Indonesia sebelum dikembalikan ke Yayasan Dewi Sartika. Nama sekolah pun berubah menjadi "Sekolah Kepandaian Putri". 
 
Atas jasa-jasanya, Raden Dewi Sartika dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 252 Tahun 1966.***

Editor: Mufrod

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X