CATATAN PELATIHAN AHLI PERS (2): Demokrasi Semu dan Tantangan Pers Saat Ini

Heldi Satria
- Selasa, 24 Agustus 2021 | 11:43 WIB
Pelatihan Ahli Pers Dewan Pers
Pelatihan Ahli Pers Dewan Pers

Media konvensional atau mainstream media yang mendasari produk informasinya sesuai Kode Etik Jurnalistik dan UU Tentang Pers, hari ini daya hidupnya tertekan, ada yang kritis dan bahkan tidak sedikit yang mati. Disrupsi digital dan dampak pandemi Covid-19, memukul telak daya hidup hampir semua sektor kehidupan. Tak terkecuali media arus utama, lebih khusus lagi media cetak. Pendapatan dari penjualan koran dan iklan, kian mengecil. Sementara biaya produksi, terus melejit.

Menghadapi disrupsi digital dan pendemi, media dituntut beradaptasi, bertransformasi, kreatif dan inovatif, jika mau bertahan hidup. Namun, dalam praktiknya untuk menjaga keberlanjutan media standar hari ini: adaptasi, transformasi, kreatif dan inovatif itu, tidak semudah membaca mantra yang begitu diucapkan lalu muncul hasilnya.

Adaptasi dan transformasi, butuh biaya yang tidak kecil untuk membangun infrastruktur digitalnya. Perlu  sumber daya manusia yang baik, kompeten, trampil dan tangguh secara mental.  Hanya perusahaan-perusahaan besar,  konglomerasi media yang jumlahnya sepenghitungan jari yang bisa bertahan dan bahkan terus membesar. Sementara pers kecil, umumnya yang ada di daerah, semakin terdesak dan tertekan daya hidupnya.   

Lalu, bagaimana mungkin media konvensional bisa menjalankan perannya seperti yang diharapkan banyak kalangan itu? Jangankan untuk meningkatkan kualitas produk jurnalistiknya, mempertahankan daya hidupnya saja, media-media daerah sudah ngos-ngosan. Ini, bisa berbahaya! Jika tidak tahan diri, media mainstream yang lemah ini bisa terperosok kepada konspirasi antarpilar. Berkolusi dengan eksekutif, legislatif atau yudikatif. Akibatnya, kualitas media akan anjlok.

Menurut Hendri CH Bangun, merosotnya kualitas media massa akan membuat tugasnya untuk mengawal demokrasi semakin sulit. Bagaimana mungkin media dapat dipercaya untuk membela kebenaran, mengedepankan kepentingan publik, menjadi medium untuk mempertemukan, membahas, dan mencari solusi persoalan bangsa apabila dia sendiri tidak kredibel, tidak akuntabel dan tidak dikelola dengan baik.

“Bila tidak diasuh oleh wartawan yang telah teruji tahan godaan, taat mengawal kode etik, bersikap kritis terhadap kekuasaan, berfikir dan bertindak independen, sebuah media hanya menjadi pabrik informasi belaka, yang bahkan saat ini dan ke depan dapat dilakukan mesin,” kata Hendri.

Ketika mendapat kesempatan berdialog dengan Menko Polhukam pada sesi “Pelatihan Ahli Pers Dewan Pers”, saya menyampaikan aspirasi, harapan dan usulan, agar pemerintah, berempati dan hadir untuk ikut menguatkan daya hidup media konvensional hari ini.

“Untuk jangka menengah dan panjang, kami mengusulkan agar ada regulasi dan aturan yang bisa melindungi daya hidup media konvensional dan media-media daerah dari dominasi news media, media baru berbasis platform digital, termasuk penyedia jaringan yang umumnya adalah perusahaan asing.”

Untuk jangka pendek, usulan yang saya sampaikan kepada Menko Polhukam terkait kepastian insentif  untuk media konvensional yang sudah sering kali diungkapkan pemerintah; yakni subsidi pajak kertas, subsidi listrik dan iyuran BPJS.

“Kami sudah sering mendengar insentif ini, insentif itu untuk media. Namun implementasinya di daerah, tidak bisa dijalankan. Mohon Pak Mahfud, jika memang ada, dibuatkan aturan turunan atau juknisnya,” demikian saya sampaikan.

Halaman:

Editor: Heldi Satria

Sumber: Penulis

Tags

Terkini

X