Atlet Ini Tak Diunggulkan, Namun Sukses Bawa Medali di Olimpiade Tokyo 2020

- Kamis, 29 Juli 2021 | 01:25 WIB
Aksi atlet angkat besi Rahmat Erwin Abdullah dalam pertandingan pada nomor 73 kg cabang olahraga angkat besi Olimpiade Tokyo 2020 di Jepang, 28 Juli 2021. Dalam kesempatan tersebut, ia mencatat rekor Olimpiade dengan angkatan 190 kilogram clean and jerk meski dalam kondisi cedera. REUTERS/Edgard Garrido
Aksi atlet angkat besi Rahmat Erwin Abdullah dalam pertandingan pada nomor 73 kg cabang olahraga angkat besi Olimpiade Tokyo 2020 di Jepang, 28 Juli 2021. Dalam kesempatan tersebut, ia mencatat rekor Olimpiade dengan angkatan 190 kilogram clean and jerk meski dalam kondisi cedera. REUTERS/Edgard Garrido

 

HARIANHALUAN.COM- Ia tak diunggulkan, tetapi sukses memberi kejutan. Ialah atlet angkat besi Rahmat Erwin Abdullah yang mengukir sejarah manis pada debutnya di Olimpiade Tokyo 2020.

Ia seorang putra mantan lifter Erwin Abdullah dan Ami Asun Budiono yang tampil sebagai kuda hitam pada kelas 73 kilogram.

Rahmat yang tampil terbaik di grup B kelas 73 kg putra seusai membukukan angkatan total 342 kg (snatch 152 kg dan clean and jerk 190 kg). Ia pun berhak mendapatkan medali perunggu di Tokyo International Forum, Jepang, Rabu, (28/7/2021).

Medali emas didapat lifter Cina Shi Zhiyong yang membukukan total angkatan 364 kg (snatch 166 kg dan clean and jerk 198 kg) yang sekaligus menjadi rekor baru Olimpiade. Sementara perak diamankan lifter Venezuela, Mayora Pernia Julio Ruben, dengan total angkatan 345 kg (snatch 156 kg dan clean and jerk 190 kg).

“Saya sangat bersyukur. Medali ini saya persembahkan untuk keluarga saya, ayah dan ibu. Untuk seluruh masyarakat Indonesia, Kemenpora, NOC Indonesia, PB PABSI, serta semua yang sudah mendukung saya,” kata Rahmat melalui keterangan tertulis pada Rabu, 28 Juli 2021.

Pemuda berusia 20 tahun ini menjelaskan sudah berambisi meraih medali di Tokyo. Ambisi itu semakin memuncak ketika lifter putri Windy Cantika berhasil merebut medali perunggu di kelas 49 kg putri pada 24 Juli lalu, tepat sehari setelah opening ceremony Olimpiade Tokyo.

“Sudah sejak Windy Cantika meraih medali perunggu saya itu uring-uringan dan tertekan karena saya juga ingin mendapatkan medali. Namun, saya tidak bisa barbicara dengan siapa-siapa. Paling ya menenangkan diri sendiri dengan berbicara saja, bahwa saya bisa dan saya mampu,” kata Rahmat yang mengaku sangat gembira dengan prestasinya di Olimpiade.

Rahmat tak sekadar menggenapi ambisi pribadinya. Ia juga turut menggenapi mimpi sang ayah yakni Erwin Abdullah. Sang ayah, yang kini menjadi pelatihnya dan turut mendampingi Rahmat di Tokyo, pernah memiliki kesempatan tampil di Olimpiade Athena 2004. Namun, mimpi itu pupus.

Halaman:

Editor: Endrik Ahmad Iqbal

Sumber: Tempo.co

Terkini

Bupati Lepas Atlet Pasaman ke PON XX Papua, Ini Pesannya

Senin, 27 September 2021 | 12:53 WIB

Panitia Besar PON XX Papua Apresiasi Kesigapan PLN

Minggu, 26 September 2021 | 19:05 WIB
X