Seyogianya Sumbar Dikembangkan untuk Pendidikan

- Minggu, 8 Februari 2015 | 19:54 WIB

Sukry sedikit pengulas manfaat pengembangan sektor pendidikan yang didapat oleh Pemerintah Pro­vinsi Daerah Istimewa (DI) Yog­yakarta. Jumlah mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia dan dari luar negeri yang kuliah di kampus-kampus yang ada di Yog­yakarta lebih kurang sekitar 400.000 orang. Jika masing-masing maha­siswa mengeluarkan biaya rata-rata per bulan Rp1 juta per orang, maka jumlah uang beredar di Yogyakarta dalam satu bulan Rp400 miliar. Satu tahunnya Rp4,8 triliun.

“Multyplier effect-nya juga sa­ngat besar, bagi sektor per­eko­nomian, perhotelan, pariwisata, transportasi dan lain sebagainya. Karena itu, Pemprov Yogya tak perlu repot-repot mencari investor macam-macam,” kata pakar eko­nomi manajemen tersebut.

Sumbar memiliki nilai lebih dibandingkan dengan daerah lain, jika pemerintah daerahnya benar-benar ingin mengembangkan daerah ini untuk sektor pendidikan. Sum­bar memiliki perguruan-perguruan tinggi yang sudah cukup ternama seperti Universitas Andalas, Uni­versitas Negeri  Padang (UNP/pengembangan dari IKIP), IAIN Imam Bonjol dan sederet perguruan tinggi lainnya, baik negeri maupun swasta. Sumbar juga memiliki seko­lah-sekolah mulai dari tingkat dasar hingga menengah atas yang ber­kualitas.

Kelebihan yang dimiliki Sumbar terletak pada nilai budaya dan nilai-nilai agama masyarakatnya yang relatif masih terjaga. Sehingga de­ngan demikian, orang tua siswa dan mahasiswa dari provinsi lain tidak terlalu cemas terdampak oleh per­gaulan bebas, seperti yang terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

“Namun, tentunya pemerintah daerah melalui kebijakan dan per­aturan daerah yang ada, serta ber­sama-sama dengan institusi lainnya (seperti Polri dan TNI) menggaransi tidak ada pergaulan bebas dan narkoba di Sumbar. Di sisi lain, perguruan tinggi dan sekolah-seko­lah di Sumbar berupaya mening­katkan mutu dan kualitasnya. De­ngan begitu, Sumbar akan menjadi tujuan orang untuk mendapatkan penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas, baik nasional, regional, bahkan dunia,” kata putra kelahiran Jawi-Jawi Kota Pariaman ini.

Menurut Sukry, Sumbar tidak tepat dikembangkan untuk daerah  perdagangan, pariwisata apalagi industri. Jika dikembangkan untuk pariwisata, maka Sumbar berta­brakan dengan sendiri nilai budaya yang dimiliki masyarakatnya. Kare­na mesti diakui, dalam praktiknya pariwisata di mana-mana tidak bisa dipisahkan dari hal-hal yang negatif dari kaca mata Islam, selaku agama yang dianut oleh mayoritas ma­syarakat Sumbar.

“Terkecuali wisata religi ke Makkah, itu kan beda. Coba tunjuk­kan ke saya jika ada kota-kota tujuan wisata yang bebas dari praktik-praktik negatif. Karena itulah, Sum­bar tidak tepat dikembangkan  un­tuk sektor pariwisata,” tegasnya.

Sukry menilai sejauh ini arah pembangunan Sumbar dan termasuk Kota Padang belum lagi menuju bagi pengembangan bidang pendidikan. Hal itu tercermin dari berbagai kebijakan pemerintah daerah dari satu periode ke periode berikutnya. “Saya pikir ke depan, arahnya mesti ke situ. Jangan dipaksakan pem­bangunan Sumbar ke arah yang tidak mungkin  berkembang dengan baik,” katanya menandaskan. (h/erz)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Perumda AM Padang Buka Pendaftaran MBR 2022

Minggu, 26 September 2021 | 07:28 WIB

Kemenko Marves Segera Siapkan DED TPA Aia Dingin Padang

Sabtu, 25 September 2021 | 12:30 WIB

Berkebun, LBH Padang Usung Konsep Urban Farming

Kamis, 23 September 2021 | 16:46 WIB

8.000 Penerima Bansos di Padang Sudah Divaksin

Kamis, 23 September 2021 | 14:40 WIB

Kebakaran di Lapai Padang, Enam Unit Rumah Hangus

Selasa, 21 September 2021 | 11:36 WIB
X