Hari Ini, Pemilik Pabrik Tahu Diperiksa

- Senin, 16 Februari 2015 | 19:59 WIB

“Kita sudah lakukan pe­manggilan terhadap pe­milik­nya, besok (hari ini, red) yang bersangkutan akan datang. Kita akan periksa kelengkapan dokumennya, termasuk doku­men terkait analisis dampak lingkungan (Amdal). Jika terbukti ketidaklengkapan dokumennya, pabrik itu bisa kita hentikan operasinya,” ucap Edi.

Edi juga menerangkan, limbah apapun tidak boleh langsung dialirkan ke sungai, karena dampak buruknya sa­ngat nyata. “Tidak ada satupun pembenaran bagi mereka yang membuang langsung limbah ke dalam sungai,” tambah Edi.

Sementara Lurah Bungo Pasang, Bambang Adiruscahya mengaku telah berulang kali melakukan peringatan kepada pemilik. Ia juga mengatakan, warga setempat sudah sering mengeluhkan keberadaan pa­brik tersebut, sehingga harus secepatnya ditindaklanjuti.

“Saya sudah datang ber­kali-kali menemui pemilik. Beliau berjanji akan mem­perbaiki saluran limbahnya. Syukur Bapedalda juga telah meninjau ke lapangan, karena keberadaan pabrik itu memang sangat merugikan lingku­ngan,” ucap Bambang.

Pabrik Tak Dilengkapi IPAL

Pengamat Lingkungan asal Universitas Andalas (Unand), Bustanul Arifin ikut menang­gapi keberadaan pabrik tahu yang mencemari lingkungan di Kelurahan Bungo Pasang. Me­nurut Direktur Pusat Studi Lingkungan Hidup Unand itu, setiap badan usaha, apalagi pabrik pembuatan tahu harus dilengkapi Instalasi penge­lolaan Air Limbah (IPAL).

“Seharusnya pabrik tahu dan sejenisnya, harus dileng­kapi bak pengolahan limbah, atau yang biasa kita sebut IPAL. IPAL itu, fungsinya sebagai tempat pengelolaan limbah produksi untuk ditu­runkan kadar kimianya. Sete­lah itu, baru limbah bisa di­buang ke sungai. Kelengkapan IPAL tersebut memang tidak ditemui di lapangan, di mana limbah pabrik langsung di­buang ke tengah Sungai,” ucap Bustanul kepada Haluan.

Ia mengatakan, meskipun pada dasarnya limbah pabrik tahu tidak mengandung racun berbahaya, namun tanpa kan­dungan racun tetap akan sangat mengganggu keberadaan biota air di sungai.  Selain itu, jika air sungai kerap digunakan oleh penduduk setempat untuk keperluan rumah tangga, tentu status air yang bercampur limbah sudah tidak layak guna.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Lalu Lintas di Padang Lengang Saat PPKM Darurat

Jumat, 23 Juli 2021 | 18:51 WIB
X