Dishub Kewalahan Tangani Angkot Nakal

- Senin, 16 Februari 2015 | 20:02 WIB

“Di Padang ini, tanpa mu­sik dan aksesori angkot tidak diminati, bisa saja pendapatan kita menurun,” jelas Ulam.

Ia menambahkan, memang untuk kalangan orang tua tidak banyak yang suka dengan akse­soris angkot ataupun sound system yang keras. Ulam me­ngakui, ketika melakukan uji keur kendaraan memang dila­rang menggunakan kaca film. “Sudah ada larangannya, tapi kalau tidak ada kaca film pa­naslah penumpang,” kata Ulam.

Sementara Ani, pe­num­pang angkot Tabing men­jelas­kan, ketika kaca film yang terlalu gelap jelas mem­buat takut penumpang, apalagi ma­lam hari. Karena kaca film yang gelap memudahkan terja­dinya pencopetan.

“Biasanya angkot yang ber­kaca gelap sering terjadi keco­petan. Saya kalau pulang kuliah malam hari pasti memilih naik angkot yang tidak ada kaca film dan sopirnya sudah tua,” terang Ani.

Apa yang dijelaskan para sopir memang kadang kala menjadi dilema di Padang. Ketika angkot tidak punya aksesori dan kaca film pe­num­pang tidak naik. Menurut Ke­pala Dishub Kominfo, Rudy Rinady kondisi angkot di Kota Padang memang su­sah dipisah­kan dari aksesori dan kaca film. Terlepas dari itu semua, ketika melakukan uji keur angkot di Mato Aia, sopir melepas itu semua. “Ke­tika uji keur tidak satupun angkot yang memiliki kaca film,” terang Rudy.

Sebagai pihak yang ber­tugas mengawasi, jelas Rudy, pihaknya tidak mampu menga­komodir seluruh peraturan untuk angkot. Bantuan dan koordinasi dengan pihak kepo­lisian akan gencar dilakukan. Karena, jumlah angkot di Kota Padang lebih dari 2.000 unit.

“Dengan jumlah ang­kot yang cukup banyak di Kota Padang, memang kita kewa­lahan untuk me­­­ne­r­tib­kannya. Ka­re­na, sopir angkot selalu kucing-kucingan dengan pe­tu­gas,” tutup Rudy Ri­naldy. (h/ows)

Editor: Administrator

Terkini

Kunjungi Kota Padang, Simak Pesan Wakapolri

Rabu, 4 Agustus 2021 | 21:42 WIB
X