Sudah Dua Kali Dikunjungi Walikota, Kampung Sungkai Masih Terisolasi

- Jumat, 27 Februari 2015 | 19:45 WIB

“Anak-anak warga Sungkai sulit belajar kalau malam, karena hanya menggunakan lampu berbahan bakar minyak tanah. Kami terisolir karena tidak bisa mendapatkan infor­masi dan hiburan dari televisi. Ini membuat pengetahuan war­­ga,” ujarnya saat ditemui Haluan di Sungkai, Jumat (27/2).

Basril mengatakan, sudah be­r­usaha memperjuangkan kampungnya untuk menda­patkan listrik. Salah satunya dengan mengajukan proposal ke PLN wilayah Sumatera Barat. Proposal yang ditan­datangani warga itu sudah dua kali diajukan, tapi belum ada jawaban dari PLN.

Basril memang belum menga­jukan proposal atau me­laporkan hal itu ke Dinas Pe­kerjaan Umum (PU) Padang, namun dia sudah mengadu ke Mahyeldi, saat Walikota Pa­dang berkunjung ke Sungkai.

“Sudah dua kali walikota ke sini, terakhir dua minggu yang lalu. Saat kami mengeluhkan persoalan ini, walikota me­nanggapi keluhan kami. Tapi hanya sebatas ditanggapi, kare­na hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari Pemerintah Kota Padang,” ungkapnya.

Di sisi lain, warga Kam­pung Sungkai juga me­nge­luhkan akses jalan keluar kampung. Sempitnya jalan membuat kendaraan roda em­pat tidak bisa memasuki kam­pung mereka.  Akibatnya, anak-anak sekolah tidak memiliki tumpangan ke sekolah. Seba­gian warga yang memiliki sepeda motor, mengantarkan anaknya ke sekolah. Namun, bagi pelajar yang orangtuanya tidak memiliki sepeda motor menumpangi kendaraan yang keluar dari Sungkai. Jika tak ada tumpangan karena jumlah kendaraan yang keluar masuk Sungkai terhitung sedikit, para pelajar berjalan kaki ke seko­lah dengan menempuh jalan sepanjang dua kilometer.

Sempitnya jalan di Sung­kai, kata Basril, juga berdam­pak pada kemajuan ekonomi masyarakat di sana yang mayo­ritas merupakan petani. Me­reka kesulitan membawa hasil tani dan ladang seperti padi, karet, sayur-sayuran, kayu api dan sebagainya, keluar Sung­kai untuk dijual.

“Untuk membawa satu karung padi, dibutuhkan biaya sebesar Rp 25.000 bila meng­gunakan jasa ojek. Kalau begi­ni, jangankan bicara soal keun­tungan, petani bisa rugi atau hanya pulang modal,” bebernya.

Basrial melanjutkan, sem­pit­nya jalan juga ber­dam­pak pada meningkatnya biaya pem­bangunan rumah warga. Jalan menuju Sungkai yang tidak bisa dilalui mobil, menyu­litkan warga mengangkut ba­han bangunan. Warga terpaksa mengangkut bahan bangunan dengan sepeda motor yang di  bangku belakangnya ditaruh keranjang rotan. Warga harus bolak-balik sekian banyak kali untuk mengangkut bahan ba­ngunan karena muatan keran­jang tidak bisa banyak. Kalau ada warga yang nekat mem­bawa muatan lebih, resikonya terjungkal ke sawah atau jurang di samping jalan.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

RSUD Rasidin Sediakan Food Box Bagi Penunggu Pasien

Minggu, 17 Oktober 2021 | 11:07 WIB

Camat Padang Selatan Optimis Lampaui Target Vaksinasi

Minggu, 17 Oktober 2021 | 09:21 WIB

Terpopuler

X