Imbauan Organda Tak Diacuhkan Sopir Angkot

- Selasa, 10 Maret 2015 | 19:31 WIB

Saat Haluan menanyakan pada sopir, Ujang, soal kenai­kan tarif ini, ia menyatakan itu sudah menjadi kesepakatan bersama dengan sopir yang lainnya, kalau seandainya masih memakai tarif Rp3.000 takutnya nanti terjadi salah paham antar sesama sopir. “Kebijakan tersebut kan atas kesepakatan semua sopir, jadi kita ngikut saja,” ujarnya.

Hal yang sama juga terjadi pada angkot jurusan Pa­ling­gam, menaikkan ongkos ang­kot menjadi Rp3.500 pe­ro­rang. Salah seorang sopir ju­ru­san Palinggam, Anton menga­ku, menaikkan tarif tersebut karena kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Selain itu, menurutnya, jarak tempuh antara Pasar Raya ke Paling­gam cukup jauh, lagipula para penumpang tidak ada yang komplain.

Lain lagi dengan angkot jurusan Banda Buek, Gadut dan Indarung yang menaikkan ong­kos angkot hingga Rp4.000 pe­rorang­nya. “Ongkos Rp 4.000 itu sudah murah, jika dibandingkan dengan ongkos di daerah lain. Karena jarak tempuh dari Pasar Raya ke Gadut, Indaruang dan Banda Buek sekitar 14 kilo­meter,” jelasnya.

Menurutnya, ongkos Rp 3.000 tersebut hanya untuk trayek dalam kota saja, seperti angkot Labor-Pasar Raya, atau Tabing-Pasar Raya. Saat dita­nya soal imbauan Organda, bahwa sopir tidak boleh me­naik­kan ongkos angkot, ia mengaku tidak mengetahuinya.

“Tapi saya tidak pernah memaksakan ongkos harus dibayar segitu, kadang penum­pang ada yang pakai uang pas Rp3.000 saya ambil saja, ka­rena saya malas bertengkar,” ulasnya.

Beda lagi jika penumpang hingga ke Ngalau, ongkos angkot bisa mencapai Rp5.000 hingga Rp6.000 perorang. Karena, menurut Anton, jarak tempuh ke Ngalau sangat jauh hingga mencapai 19 kilometer. Untuk jurusan Bauaran, Cen­dana juga mengalami kenaikan yang sama dengan tarif Pal­ing­gam yakni Rp3.500.

Sementara itu, salah seo­rang pe­num­pang, Nora yang rutin menggunakan angkot jurusan Siteba mengaku, tidak setuju dengan kenaikan ongkos menjadi Rp4.000, karena ke­naikan BBM hanya Rp200 pe­r­liternya.

“Saya memang naiknya dari Siteba, tapi turunnya hanya separuh jalan. Di Khatib saya turunnya bukan di Pasar Raya, tapi tetap ongkos saya diambil Rp4.000. Kadang kalau saya ada uang pas, saya kasih saja Rp3.000,” ujarnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Lalu Lintas di Padang Lengang Saat PPKM Darurat

Jumat, 23 Juli 2021 | 18:51 WIB
X