Bayi Kembar Lima Itu Anak Rang Awak

- Jumat, 26 Juni 2015 | 19:57 WIB

Usai menamatkan pendidikan di SMA Negeri 4 Padang pada tahun 2001, suami tercinta Nia Rachmawati yang dipersuntingnya pada tahun 2012 itu, lulus sebagai calon kadet, atau taruna Akademi TNI Angkatan Laut (AAL), yang bermarkas di Krembangan, Surabaya, Jawa Timur. Sampai akhirnya pada tahun 2004 (angkatan 50), Hari dinyatakan lulus dan dilantik menjadi Perwira Pertama berpangkat Letnan Dua.

Dihubungi Haluan, Jumat (26/6), Hari mengaku gembira, sekaligus haru atas kehadiran lima buah hatinya itu secara sekaligus. Alhamdulillah, saya bersyukur, sangat-sangat bersyukur. Ini adalah anugerah dan karunia yang teramat besar. Semuanya (anak-anak) selamat, juga ibunya. Ini benar-benar berkah Ramadan, ujar sang Kapten yang kini tengah menjalani pendidikan di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) itu.

Hari menuturkan, kelahiran lima bayi kembarnya melalui proses operasi cesar itu, berlangsung dengan lancar. Meski kandungan sang istri baru menginjak usia 31 minggu yang menyebabkan kelahiran bayi prematur, namun kelima bayinya seperti keterangan pihak medis, lahir dalam keadaan selamat, tanpa kurang satupun organ dan alat inderapun.

Bayi yang pertama kali lahir sebut Hari, berjenis kelamin laki-laki. Sedangkan empat bayi lainnya yang lahir secara berturut-turut, berkelamin perempuan.

Sebelum persalinan, saya memang sempat deg-degan dan dilanda perasaan cemas yang sangat luar biasa. Yang pastinya, karena khawatir dengan keselamatan istri dan bayi. Apalagi kabar itu (kembar lima), sudah kami ketahui saat kandungan berusia tiga bulan. Tapi Alhamdulillah, Allah SWT akhirnya menjawab doa kami, istri dan anak-anak saya selamat, tandas Hari.

Memilih Inseminasi

Kelahiran bayi kembar lima pasangan Hari Saputra dan Nia Rachmawati pada Jumat pagi itu, sebenarnya bukan yang pertama, melainkan persalinan kedua bagi istrinya. Karena pada tahun 2013 lalu, mereka juga telah dikaruniai seorang putri cantik. Namun baru genap berusia dua bulan, Tuhan berkehendak lain. Buah cinta mereka dipanggil menghadap Sang Khalik, karena sakit.

Trauma kehilangan anak pertama, membuat mental dan kondisi kesehatan Nia tidak stabil. Dampak dari keadaan itu, secara tak langsung juga ikut berpengaruh terhadap hormonnya. Nia, sulit untuk hamil. Namun karena dorongan semangat, hasrat dan keinginan yang kuat untuk kembali mendapat momongan, tidak membuat pasangan ini menyerah begitu saja. Selang setahun sejak kepergian anak pertama mereka, berbagai upaya dan ikhtiar, terus dilakukan. Semata, agar kembali bisa dikaruniai keturunan.

Hingga akhirnya pada tahun 2014, atas saran seorang dokter di RSUD Dr Soetomo Surabaya, Hari dan Nia akhirnya memutuskan untuk ikut program inseminasi, yakni salah satu teknik dalam dunia medis untuk membantu proses reproduksi dengan cara menyemprotkan sperma yang telah dipreparasi ke dalam rahim dengan menggunakan kateter, yang tujuannya untuk membantu sperma menuju telur yang telah matang (medistra.com).

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X