Kredit Macet UMKM di Sumbar Tinggi

- Selasa, 8 September 2015 | 19:05 WIB

Menurut Kepala BI Wi­la­yah Sumbar, Puji Atmoko, hal itu terjadi karena banyak UMKM yang macet, se­hingga berdampak pada penunggakan cicilan kredit usaha rakyat (KUR). Na­mun demikian, kata Puji, NPL perbankkan pada tri­wu­lan II stabil, yakni berada pada level 3,02 persen. De­mikian pula dengan fungsi intermediasi bank umum di Sumbar pada triwulan II yang relative stabil dan kon­sisten berada di level tinggi. Kondisi ini terlihat dari tingginya Loan to Deposit Ratio (LDR), yakni rasio antara jumlah kredit yang disalurkan bank terhadap jumlah dana yang dihimpun oleh bank, sebesar 138,8 persen.

Meski demikian, kata Puji, laju pertumbuhan kredit di Sum­bar sedikit melambat, yakni 13,4 persen pada triwulan II, dari 13,9 persen dalam hitungan tahun ke tahun pada triwulan I. Berda­sarkan jenis penggunaan, melam­batnya kredit tersebut didorong oleh melambatnya kredit pro­duktif seperti kredit investasi yang sedikit melambat, yakni 23,6 persen pada triwulan I, menjadi 23,0 persen pada triwulan lapo­ran, dan melambatnya kredit modal kerja dari 11,7 persen dalam hitungan tahun ke tahun, menjadi 9,0 persen.

Puji menginformasikan, dili­hat dari sisi yang lebih luas, pertumbuhan ekonomi Sumbar lemabat pada triwulan II, yakni sebesar 5,27 persen dalam hitu­ngan tahun ke tahun. Padahal, pada triwulan I, pertumbuhan ekonomi Sumbar mencapai 5,46 persen.

”Melambatnya pertumbu­han ekonomi Sumbar disebabkan oleh masih rendahnya kegiatan investasi di Sumbar sebagai dam­pak belum kondusifnya iklim usaha dan depresiasi nilai tukar Rupiah. Dari sisi lapangan usaha, melambatnya sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dise­babkan oleh pe­nurunan produksi perkebunan, khususnya karet,” tutur Puji.

Meski demikian, petumbuhan ekonomi Sumbar berada di posisi ketiga dari 10 provinsi di Su­matera pada triwulan II ini. Ber­dasarkan data BPS, di posisi pertama adalah Kepri dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,57 persen, kemudian Bengkulu 5,33 persen.

Bahkan, jika dibandingkan de­ngan pertumbuhan ekonomi nasio­nal pada triwulan II, per­tumbuhan ekonomi Sumbar bera­da di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada pada angka 4,67 persen. Pada triwulan I, pertumbuhan ekonomi Sumbar juga di atas per­tumbuhan ekonomi nasional yang berada pada angka 4,71 persen.

Melihat pertumbuhan eko­nomi Sumbar, konsumsi peme­rintah pada tahun ini masih rendah, yakni 11 persen. Hal ini disebabkan rendahnya serapan anggaran APBD. Kontribusi konsumsi rumah tangga, masih mendominasi pertumbuhan eko­nomi Sumbar, yakni 52 persen. Posisi kedua yang banyak berkon­tribusi adalah investasi, yakni 29 persen, kemudian net ekspor lintas negara 10 persen, net ekspor antardaerah 1,4 persen, dan konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 1 persen.  “Ekspor Sum­bar masih rendah karena produk ekspor yang terbatas,” kata Puji.

Terkait nilai tukar rupiah yang semakin melemah, masyarakat Sumbar tidak begitu merasakan dampaknya. Menurut Puji, hal ini terjadi karena di Sumbar hampir tak ada usaha yang mengimpor komponen.  “Yang banyak di Sumbar itu UMKM, yang bahan produksinya tidak diimpor,” kata Puji. (h/dib)

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

X