Unidha Jadi Tempat Peluncuran Buku Fahmi Idris

- Senin, 21 Desember 2015 | 01:47 WIB

Buku tersebut ditulis oleh 30 sahabat Fahmi, yang menceritakan kesan mereka tentang sosok Fahmi yang merupakan politikus, pebisnis, pendidik, dan birokrat.

Rektor Unidha, Syukri Lukman menyatakan ke­banggaannya atas dipilihnya universitas yang baru ber­usia satu tahun tersebut se­bagai lokasi peluncuran dan bedah buku tokoh sekaliber Fahmi. Dipilihnya Unidha sebagai tempat untuk me­nyelenggarakan kegiatan besar itu, bermanfaat untuk pengenalan kampus.

Lima pembedah, yakni Basril Djabar, Saldi Isra, Shadiq Pasadigoe, Guspardi Gaus, dan Syafrudin Nur­din, membedah buku ter­sebut. Syafrudin, pembedah pertama, memandang Fah­mi sebagai tokoh pen­di­dikan yang belajar seumur hidup. Kiprah Fahmi dalam bidang pendidikan, Fahmi merupakan dosen di Uni­versitas Negeri Jakarta, Pem­­bina Yayasan Adabiah, de­wan penyantun Uni­ver­sitas Andalas dan seba­gainya. Dalam buku Aktivis Tiga Zaman, kiprah Fahmi sebagai pegiata pendidikan dan sosial ditulis oleh Awa­loedin Djamin, Basril Dja­bar, Syahrul Ujud, Mah­muddin Yasin, Sjafrie Sjam­soeddin, Zulfahmi Burhan, dan Muchlis R. Luddin.

Guspardi Gaus, wakil ketua DPRD Sumbar ini menilai, kelemahan buku itu adalah pengulangan in­for­masi tentang Fahmi. Ham­pir semua penulis da­lam buku ini menulis peran Fahmi dalam Angkatan 66. Hal positif dari kesan itu, bahwa semua pihak me­ngakui peran Fahmi dalam Angkata 66.

Mengenai informasi ten­tang Fahmi dalam buku itu, Guspardi belum puas. Oleh karena itu, ia berharap ada gagasan dari siapa saja, un­tuk menulis biografi Fahmi secara utuh.

Sementara itu, menurut Shadiq Pasadigoe, yang ditulis oleh sahabat-sahabat Fahmi dalam buku itu, rele­van dengan kepribadian Fahmi dan dengan yang dilakukannya selama ini, karena Shadiq sudah me­ngenal Fahmi sejak Shadiq masih mahasiswa.

Dalam buku itu, kata Shadiq, yang perlu ditiru dari sosok Fahmi sebagai biro­krat adalah, Fahmi me­lihat tan­tangan pada za­man­nya. Mi­sal­nya, saat menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Trans­migrasi, saat itu buruh ingin punya serikat, Fahmi me­responnya. “Hal seperti itu perlu ditiru oleh biro­krat Sumbar. Pemimpin harus memecahkan ma­sa­lah aktual saat itu,” kata man­tan bupati Tanah Datar ini.

Kesan Shadiq terhadap Fahmi, Fahmi adalah tokoh yang namanya belum pernah tercemar, sebagai apa pun Fahmi berperan. Ia juga mendukung ha­rapan Gus­pardi bahwa per­lu ada bio­grafi untuh ten­tang Fahmi.

Basril Djabar, pemilik Harian Singgalang me­nga­takan, buku tentang Fahmi itu penting karena buku adalah sesuatu yang penting untuk ditinggalkan untuk generasi selanjutnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Lalu Lintas di Padang Lengang Saat PPKM Darurat

Jumat, 23 Juli 2021 | 18:51 WIB

Bansos Beras 10 Kg di Padang Telah Disalurkan

Selasa, 20 Juli 2021 | 18:44 WIB
X