Suku, Harga Mati bagi Anak Minangkabau

- Jumat, 29 April 2016 | 04:08 WIB

PADANG, HALUAN — Pertemuan seorang laki-laki dengan perempuan dalam per­ni­kahan merupakan pe­ristiwa sakral yang mempunyai aturan, baik dalam undang-undang pemerintahan, agama, dan adat istiadat. Pernikahan juga merupakan pen­ye­suaian karakter dan kebiasaan (adat) dua keluarga besar.

Suatu kekhawatiran ni­nik mamak di Minang­ka­bau (Minang) saat ini yaitu sudah banyaknya laki-laki Minangkabau  menikah dengan perem­puan non-Minangkabau. Hal lumrah ini terjadi karena pengaruh merantau yang juga menjadi kebiasaan laki-laki Mi­nang­kabau sejak dahulu.

Pernikahan beda suku tidak ada larangan dalam agama. Tetapi pernikahan beda suku, yaitu suku Mi­nang dengan non-Minang akan men­datangkan efek pengaburan garis ketu­runan. Hal ini terjadi jika laki-laki Minang menikah dengan perempuan non Minang. 

Kekhawatiran anak lahir tanpa suku ini dialami oleh Arya yang merupakan warga Padangpanjang yang me­ni­kahi perempuan dari tanah Jawa yang tinggal di Pesisir Selatan. Namun dengan memilih pergi merantau hal ini bukan lagi jadi peng­halang. Tidak lama lagi pasangan muda ini akan segera memiliki seorang anak.

“Kami khawatir jika nanti pulang ke kam­pung, anak kami akan di­per­laku­kan dengan baik atau tidak secara adat. Namun untuk saat ini, kami tidak terlalu mengkhawatirkan hal ter­sebut, karena berada di daerah perantauan di Men­tawai. Selain itu, hal ini sudah dianggap biasa oleh­ masyarakat jadi tidak terlalu diperbincang­kan lagi,” te­rang Destri.

Terkait dengan efek pe­ng­a­buran garis keturunan, Destri tidak terlalu mem­persoalkan hal itu. Keluarga besarnya yang sudah lama merantau, begitu juga deng­an keluarga suami yang banyak merantau, sudah biasa dengan model per­kawinan ini.

“Asal kita saling menge­tahui siapa saja keluarga besar, itu sudah jadi modal. Anak-anak pun akan me­nge­tahui juga nanti,” tam­bah Arya.

Ketua Lembaga Kera­patan Adat Alam Mi­nang­kabau (LKAAM) Kabu­paten Agam Yul Arnis Dt Maleka Nan Tinggi saat dihubungi Haluan kemarin (25/4) mengatakan, perem­pu­an Minang yang menikah dengan laki-laki non Mi­nang tidak ada masalah, karena suku ber­dasar­kan garis keturunan ibu (ma­tri­li­ne­al). Sebagai daerah ya­ng mengambil garis ke­tu­ru­nan dari garis ibu (ma­tri­lineal), pernikahan laki-laki Minangkabau dengan pe­rem­puan luar suku di Mi­nang­kabau menjadi salah satu polemik yang terjadi saat ini. Karena anak hasil perkawinan tersebut tidak mempunyai suku dari pihak ayah (laki-laki Minang­ka­bau) maupun dari pihak ibu (non-Minangkabau). 

“Suku bagi seorang anak di Minangkabau merupakan suatu hal yang tidak dapat ditawar,” tegasnya. Di Minangkabau, sam­bung Dt Maleka Nan Tinggi, apabila terjadi perceraian, anak ikut dengan ibunya. Selain diasuh oleh ibu, anak juga menjadi tanggung jawab mamaknya (saudara laki-laki ibu). Sedangkan di luar Minang, ketika terjadi per­ceraian, anak ikut dengan ayahnya.

Halaman:

Editor: Administrator

Terkini

Wako Padang Sambut Baik Lembaga Halal Syariah

Jumat, 22 Oktober 2021 | 21:55 WIB

Wako Padang Sambut Baik Lembaga Halal Syariah

Jumat, 22 Oktober 2021 | 16:20 WIB

Pemko Padang Kejar Target Vaksinasi 70%

Rabu, 20 Oktober 2021 | 15:36 WIB

Wako Padang Hendri Septa Dikunjungi MUI Kota Makassar

Selasa, 19 Oktober 2021 | 16:52 WIB
X