Makna Filosofis Pakaian Wanita Matua yang Dikenakan Uni Duta Wisata Sumatra Barat

- Minggu, 7 November 2021 | 18:51 WIB
Ritma (kanan), Uni Duta Wisata Sumatra Barat saat menggunakan pakaian wanita Matua pada ajang pemilihan Uda Uni Duta Wisata Sumatra Barat 2021. (Istimewa)
Ritma (kanan), Uni Duta Wisata Sumatra Barat saat menggunakan pakaian wanita Matua pada ajang pemilihan Uda Uni Duta Wisata Sumatra Barat 2021. (Istimewa)

AGAM, HARIANHALUAN.COM - Masyarakat Minangkabau memiliki makna filosofis dalam setiap aspek kehidupannya. Mulai dari bertutur kata yang penuh ungkapan yang disebut bakieh, makna-makna makanan adat, hingga makna yang terkandung dalam pakaian yang digunakannya.

Kali ini, Harianhaluan.com akan membahas makna yang terkandung dalam pakaian Uni Agam yang dinobatkan menjadi Duta Wisata Sumtra Barat saat ajang pemilihan Uda Uni Duta Wisata 2021, Jumat (5/11/2021).

Dalam gelaran tersebut, Uni Duta Wisata Sumatra Barat menjadi perwakilan Kabupaten Agam menggunakan pakaian khas wanita Matua. Keberagaman pakaian khas setiap daerah di Minangkabau memiliki makna filosofis sendiri sesuai karakter si pemakai dan darimana ia berasal.

Kepada Harianhaluan.com, Efni Nulfita, praktisi pakaian adat Matua mengungkapkan, biasanya, dalam gelaran yang sama, perwakilan Kabupaten Agam menggunakan pakaian khas Koto Gadang. Namun dalam kesempatan tahun ini, perwakilan Kabupaten Agam menggunakan pakaian khas Matua.

Dengan pakaian adat Matuanya, Agam berhasil mencetak sejarah dengan dinobatkannya Uda dan Uni Agam menjadi Duta Wisata Sumatra Barat. Pakaian wanita Matua memiliki beberapa perbedaan dengan pakaian wanita di nagari lain di Minangkabau.

Dimulai dari Baju Hitam Basiba, ini adalah simbol bahwa seorang wanita di Matua, memiliki kepribadian yang luwes, anggun namun berwibawa. Wanita Matua dilambangkan sebagai wabita yang kreatif, bijak dan berjiwa sosial tinggi. Dengan segala keunggulannya, wanita Matua tidak boleh bertindak semena-mena.

Selanjutnya Kodek. Kodek adalah sarung songket yang dipakai berpasangan dengan Baju Hitam Basiba. Kodek di Matua melambangkan jiwa sosial dan estetis pemakainya. Hiasan taburan yang kerlap-kerlip pada kodek sebagai simbol bahwa wanita Matua memiliki pengetahuan sebanyak bintang di langit.

Kodek biasanya dipakai sampai mata kaki, ini melambangkan bahwa wanita Matua menjunjung tinggi falsafah "Raso jo Pareso" sebagai pegangan dalam setiap perbuatan. Ini sebagai simbol bahwa wanita Matua selalu introspeksi diri dalam setiap perbuatannya.

Selendang yang digunakan wanita Matua melambangkan makna filosofis bahwa wanita Matua menerapka falsafah "ringan sama dijinjing, berat sama dipikul". Sebagai seorang wanita Matua, pemakai adalah orang yang ringan tangan, suka membantu, saling menghormati dan penuh kebaikan.

Halaman:

Editor: Jefli Bridge

Tags

Terkini

Segini Tarif Hotel Ala Lego di Dubai

Sabtu, 15 Januari 2022 | 00:25 WIB

Liburan ke 3 Pantai Thailand Ini Bebas Karantina

Rabu, 12 Januari 2022 | 09:15 WIB
X