Tradisi Kerajaan di Jawa Timur: Ritual Minum Darah dan Makan Daging Mayat

- Kamis, 15 Juli 2021 | 01:00 WIB
Candi Singosari
Candi Singosari

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Kertanegara adalah seorang penganut setia aliran Budha Tantra. Prasasti tahun 1289 di arca Joko Dolog di Surabaya menyatakan bahwa Kertanegara telah dinobatkan sebagai Jina (Dhyani Buddha) yaitu sebagai Aksobya, dan Joko Dolog itu adalah arca perwujudannya. Sebagai Jina, Kertanegara bergelar Jnanaciwabajra.

Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari, saat diserang oleh tentara Kerajaan Kediri (1292) sedang pesta makan minum sampai mabuk. Kertanegara bersama dengan para patihnya, para Mahãwrddhamantri dan para pendeta-pendeta terkemukannya sedang melakukan upacara-upacara Tantrayana.

Raja Kertanegara dari kerajaan Singasari di Jawa Timur adalah seorang raja yang sangat taat melaksanakan ajaran Tantrayana. Setelah wafat ia dinamakan Çiwabuddha yaitu dalam kitab Pararaton dan dalam Nagarakartagama disebut Mokteng (yang wafat di) Çiwabuddhaloka.

“Istilah Tantrayana ini berasal dari akar kata “Tan” yang artinya memaparkan kesaktian atau kekuatan daripada Dewa itu. Di India penganut Tantrisme banyak terdapat di India Selatan dibandingkan dengan India Utara,” jelas Dani Maharsa, spiritualis Bali.

Pada masa pemerintahan Raja Sindok di Jawa Timur Tantrayana telah berkembang. Pada waktu itu telah disusun kitab Sang Hyang Kamahayanikan yang menguraikan soal-soal ajaran dan ibadah agama Budha Tantra.

Upacara memuja Bhairawa dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana dengan ritual Pancamakarapuja. Ritual melakukan 5 hal yang dilarang dikenal dengan 5 Ma, Mada atau mabuk-mabukan, Maudra atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan. Mamsa atau makan daging mayat dan minum darah, Matsya atau makan ikan gembung beracun dan Maithuna atau bersetubuh secara berlebihan.

Sesudah abad XIV tidak terdapat bukti-bukti lagi mengenai perkembangan Tantrayana itu. Kemungkinan setelah mengalami perkembangan di Jawa, Sumatra, maupun di Bali, Tantrayana setelah abad XIV mengalami kemunduran bahkan punah.

Kitab yang memuat ajaran Tantrayana antara lain, Maha Nirwana Tantra, Kularnawa Tantra, Tantra Bidhana, Yoginirdaya Tantra, Tantra sara. Tantrayana berkembang luas sampai ke Cina, Tibet, dan Indonesia.

"Dari Tantrisme munculah suatu faham “Bhirawa” atau “Bhairawa” yang artinya hebat," ucapnya.

Sekitar abad XIII Tantrayana Siwa Tantra atau Siwa Bhairawa berkembang luas di Bali. Tantrayana pernah berkembang luas di Indonesia khususnya di Bali dalam bentuknya Siwa Tantra atau lebih dikenal dengan Siwa Bhairawa.

Perkembangannya telah mulai terlihat di Bali sejak pemerintahan raja Dharma Udayana Warmadewa yang didampingi permaisurinya Mahendradhatta pada lebih kurang abad X.

Dalam hal ini Mahendradhatta sebagai Calon Arang atau Rangda ing Girah bersama murid-muridnya sebagai penganut Tantrayana memuja Dewi Durga untuk mendapatkan ilmu gaib, kesaktian agar terkabul segala kehendaknya.

"Cerita Calon Arang yang sangat terkenal di Bali dihubungkan dengan kehidupan Mahendradhatta," katanya.

Di dalam Lontar Calon Arang diuraikan bagaimana memuja Hyang Bhairawi atau Dewi Durga untuk mendatangkan pageblug atau wabah penyakit di dalam negeri Kerajaan Airlangga. Calon arang dan muridnya menari-nari di atas mayat-mayat yang telah dihidupkan kembali untuk persembahan Dewi Durga sebagai korban agar semua kehendaknya bisa dikabulkan.(*)

 

Halaman:

Editor: Miftahul Rizki

Terkini

6 Pilihan Tempat Wisata yang Aman saat Pandemi

Selasa, 19 Oktober 2021 | 11:25 WIB

Terpopuler

X