Apa itu Konflik Sosial: Pengertian, Faktor, Bentuk, dan Contohnya (Materi Sosiologi)

- Kamis, 23 September 2021 | 17:40 WIB
Ilustrasi konflik sosial (sumber gambar: Pixabay.com)
Ilustrasi konflik sosial (sumber gambar: Pixabay.com)

HARIANHALUAN.COM - Konflik sosial merupakan salah satu bentuk dari interaksi sosial. Mungkin, Anda pernah mengalami konflik dengan teman, keluarga, atau dengan orang tidak dikenal. Lantas, apa yang dimaksud dengan konflik sosial?

Dikutip melalui Modul Sosiologi Kemdikbud, konflik sosial berasal dari bahasa latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konglik sosial dapat diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih, berusaha menghancurkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.

Faktor Penyebab Konflik Sosial

Terdapat beberapa faktor di masyarakat, yang berpotensi berubah menjadi konflik. Faktor-faktor tersebut diantaranya:

  1. Perbedaan antar individu, misalnya perbedaan pendapat atau perasaan. Contohnya adalah perbedaan pendapat mengenai calon presiden untuk Indonesia, hal tersebut dapat memicu perdebatan hingga mencapai konflik.
  2. Perbedaan kepentingan seperti kepentingan ekonomi, politik, sosial, dan sebagainya. Contohnya adalah terjadinya konflik antara petani dengan pengusaha tambang, yang menggusur lahan petani tanpa kesepakatan.
  3. Perbedaan kebudayaan antar individu atau kelompok. Contohnya adalah perbedaan pendapat tentang ”pendidikan seks remaja” antara ahli dengan orang awam.
  4. Perubahan sosial yang berlangsung cepat. Karena berpotensi dapat mengubah nilai-nilai dalam masyarakat. Hal ini akan menyebabkan munculnya kelompok-kelompok yang berbeda pendirian. Selain menjadi faktor penyebab konflik, perubahan sosial juga bisa menjadi buah dari konflik. Contohnya adalah konflik agresi militer Belanda setelah Indonesia merdeka menjadi sebuah negara berdaulat.

Bentuk Konflik Sosial

Serupa dengan interaksi sosial, konflik pun memiliki 3 bentuk. Yaitu konflik idividu dengan individu, kelompok dengan kelompok, dan individu dengan kelompok. Beberapa contoh dari bentuk konflik tersebut antara lain:

  1. Konflik individu dengan individu misalnya ketika seseorang merasa tersakiti atas ucapan orang lain terhadapnya, lalu konflik berubah menjadi adu mulut diantara keduanya.
  2. Konflik antar negara. Misalnya perang dingin yang terjadi antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, setelah perang dunia II usai. Perang berhenti setelah terpecahnya negara Uni Soviet menjadi beberapa negara baru.
  3. Konflik rasial. Misalnya politik apharteid yang pernah menimpa negara di Afrika. Praktik ini merupakan salah satu praktik kolonialisme yang mendiskriminasi ras kulit hitam. Dengan cara membedakan hak-haknya, termasuk akses terhadap fasilitas publik.
  4. Konflik antar kelas sosial. Misalnya aksi buruh pada Hari Buruh, yang menuntut regulasi upah dan jam kerja layak terhadap pemerintah dan perusahaan.
  5. Konflik antar kelompok sosial. Misalnya pertikaian antar pendukung klub sepakbola, atau tawuran yang terjadi antara dua kelompok pelajar yang berbeda.
  6. Konflik antar generasi. Konflik ini kerap berkaitan dengan cara pandang yang berbeda antar generasi, terhadap melihat suatu persoalan. Misalnya perdebatan antara anak remaja dan orang tua, dalam melihat tindakan tawuran pelajar. Anak remaja menganggap itu hanya kenakalan yang lumrah, sedangkan orang tua menganggap itu tindakan kriminal, karena dapat menghilangkan nyawa seseorang.

Dampak Positif dari Konflik

Pada beberapa kasus, konflik justru membuahkan hasil yang positif di masyarakat. Ketika dua kelompok terlibat dalam sebuah konflik, maka internal kedua kelompok tersebut dipaksa untuk bersatu, karena menghadapi musuh bersama. Selain itu, konflik dapat menyebabkan perubahan sosial ke arah yang lebih baik.

Contohnya adalah reformasi tahun 1998 yang terjadi di Indonesia. Konflik yang menewaskan beberapa mahasiswa tersebut berhasil menumbangkan kekuasaan otoriter Orde Baru. Sehingga, terbentuk sebuah kebijakan yang lebih demokratis di Indonesia. Misalnya adalah kebijakan kebebasan berpendapat dan berekspreasi di muka umum. Sebelum masa reformasi, kebijakan tersebut sulit untuk dilakukan.

Halaman:

Editor: Rizky Adha Mahendra

Sumber: Modul Kemdikbud

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Besaran Skalar dan Besaran Vektor dalam Ilmu Fisika

Senin, 25 Oktober 2021 | 21:50 WIB

Besaran Pokok dan Besaran Turunan dalam Ilmu Fisika

Senin, 25 Oktober 2021 | 20:47 WIB

20 Wisudawan Terbaik PNP Periode ke-60

Minggu, 24 Oktober 2021 | 06:55 WIB

Tujuan, Ciri dan Jenis Norma Hukum

Jumat, 22 Oktober 2021 | 22:00 WIB

Ciri, Fungsi, Macam, dan Jenis Norma Sosial

Jumat, 22 Oktober 2021 | 10:04 WIB
X